Gedung Putih sendiri tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan. “Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk mengejar tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini, dan penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi Panglima Tertinggi,” bunyi pernyataan resmi pada Selasa, 6 Januari 2026.
Di Greenland, respons bernada tegas namun diplomatis. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menyambut dukungan Eropa dan menyerukan dialog yang saling menghormati. Ia menegaskan bahwa status Greenland berakar kuat pada hukum internasional dan prinsip integritas teritorial.
Isu ini semakin sensitif karena muncul tak lama setelah intervensi militer AS di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Sehari kemudian, sebuah unggahan media sosial dari Katie Miller—istri ajudan senior Trump—menampilkan peta Greenland berwarna bendera AS dengan tulisan “SEGERA”, memicu spekulasi luas.
Stephen Miller, suaminya, bahkan secara terbuka menyatakan bahwa “posisi resmi pemerintah AS adalah bahwa Greenland harus menjadi bagian dari Amerika Serikat”. Ketika ditanya apakah penggunaan kekuatan akan dikesampingkan, ia menjawab singkat: “Tidak ada yang akan melawan AS terkait masa depan Greenland.”