Aksi unjuk rasa awalnya muncul bulan lalu di pasar dan kampus-kampus Teheran, sebelum menyebar ke berbagai kota lain. Para pengamat menilai gerakan ini bersifat spontan, tanpa pemimpin yang jelas, dan berubah semakin keras ketika tuntutan ekonomi bercampur dengan tuntutan politik.
“Ini terasa berbeda karena ini soal daya beli rakyat. Orang-orang benar-benar tidak mampu membeli apa pun,” ujar seorang warga Teheran berusia 30 tahun yang meminta identitasnya dirahasiakan.
“Harga naik hampir setiap jam, dan tidak ada yang tahu kapan ini akan berakhir. Semua orang khawatir,” sambungnya.
Awal Mula Protes
Gejolak bermula ketika para pedagang di Grand Bazaar Teheran memprotes kebijakan ekonomi pemerintah pekan lalu. Situasi memburuk setelah bank sentral Iran menghentikan program subsidi dolar AS bagi sejumlah importir, yang memicu lonjakan harga secara drastis.
Harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan ayam melonjak dalam semalam, bahkan sebagian barang menghilang dari pasaran. Kondisi ini mendorong banyak pedagang menutup toko mereka—langkah ekstrem dari kelompok yang selama ini dikenal sebagai pendukung Republik Islam.
Pemerintah yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian mencoba meredam kemarahan publik dengan menawarkan bantuan tunai langsung sekitar US$7 per bulan. Namun, pemerintah mengakui langkah tersebut tidak cukup untuk mengatasi krisis.
“Kita tidak boleh berharap pemerintah bisa menangani semua ini sendirian,” ujar Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan televisi.
(Awaludin)