Ia mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap persoalan tersebut dengan menugaskan Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo untuk memimpin koordinasi teknis di lapangan bersama TNI Angkatan Darat dan kementerian terkait.
“Nah, ini kami dengar Bapak Presiden sudah menugaskan secara khusus Wakil Panglima TNI. Kami juga sudah berkoordinasi langsung dengan Panglima TNI, Wakil Panglima Pak Tandyo, dan juga Pak Richard (Kepala Staf Umum TNI) yang nantinya menjadi contact person utama bersama-sama TNI AD,” jelasnya.
Selain Sungai Tamiang, pemerintah juga akan melakukan pembersihan dan pengerukan sungai-sungai lain yang mengalami sedimentasi tinggi, seperti Sungai Merdu. Tito menekankan bahwa metode penanganan tidak hanya mengandalkan alat berat konvensional, tetapi juga menggunakan kapal pengeruk (dredger).
“Dan saya dengar, pembersihannya sudah saya usulkan saat rapat di Tamiang, tidak hanya menggunakan alat berat biasa, tetapi juga kapal pengeruk atau dredger untuk menarik dan mengeruk sedimen. Pak Menteri PU saya kira sudah sangat paham mengenai hal itu,” katanya.
Di sisi lain, Tito menegaskan bahwa perbaikan akses darat menjadi prioritas utama dalam proses pemulihan pascabencana. Akses jalan dinilai sebagai kunci kelancaran distribusi logistik, mobilisasi pasukan, serta pergerakan barang dan masyarakat.
“Perbaikan akses darat ini akan kami kerjakan. Kami sudah melakukan pendataan. Tugas inilah utamanya bagi PU, TNI, Polri, dan Antara. Akses darat ini apa pun harus dilakukan karena menjadi kunci mobilitas orang dan barang,” pungkasnya.
(Awaludin)