“Mereka datang ke Indonesia secara periodik dengan pemain yang berganti-ganti. Biasanya mereka berkewarganegaraan Cina dan berjenis kelamin pria. Terkait dokumen kependudukan Indonesia yang dimiliki sejumlah pelaku, kami sedang berkoordinasi dengan Dukcapil yang menerbitkan KTP, KK, dan dokumen lainnya untuk memastikan apakah dokumen tersebut asli atau palsu,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) guna menelusuri asal-usul dokumen kependudukan yang dimiliki sejumlah WNA tersebut.
“Bagaimana mereka bisa mendapatkan dokumen tersebut masih kami dalami. Dokumen itu digunakan untuk mengelabui petugas agar seolah-olah mereka adalah WN Indonesia,” pungkasnya.
(Awaludin)