Langkah ini memformalkan dan memperketat blokade energi de facto yang telah diperketat selama beberapa minggu. Operasi militer AS yang menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro awal bulan ini memutus sumber utama minyak mentah Kuba. Tekanan selanjutnya pada Meksiko, pemasok terakhir Havana, telah menyebabkan pulau itu menghadapi kekurangan yang parah.
Trump memprediksi pada Selasa (27/1/2026) bahwa pemerintah Kuba akan "segera gagal," dengan membual bahwa pemutusan pasokan minyak dan pendapatan Venezuela telah mendorong Havana ke ambang kehancuran. Menurut perusahaan data Kpler, Kuba hanya memiliki cadangan minyak yang cukup untuk 15 hingga 20 hari. Negara itu sudah mengalami pemadaman listrik harian, dan para analis memperingatkan akan terjadinya keruntuhan ekonomi dan krisis kemanusiaan tanpa pasokan ulang yang cepat.
Gedung Putih, dalam sebuah lembar fakta, menggambarkan deklarasi darurat sebagai respons yang diperlukan terhadap aktivitas jahat, menuduh Kuba menampung "fasilitas intelijen sinyal luar negeri terbesar Rusia" dan menyediakan "lingkungan yang aman" bagi kelompok teroris. Gedung Putih juga menuduh Havana menyebarkan pengaruh "komunis" di Belahan Barat.