JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono mengatakan, pemerintah tengah mematangkan persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Developing Eight (D-8) yang akan digelar di Jakarta.
Menurutnya, fokus utama persiapan diarahkan pada penyusunan agenda substantif agar pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan konkret yang dapat diimplementasikan.
"Kita sedang menyusun substansinya. Intinya bagaimana menjadikan KTT kali ini menghasilkan kerja sama yang konkret dan memiliki dampak nyata," kata Sugiono kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Sugiono menjelaskan, salah satu hasil konkret yang ingin dicapai Indonesia adalah penguatan kerja sama ekonomi antarnegara anggota D-8. Menurutnya, kolaborasi tersebut berpotensi memperbesar kekuatan ekonomi bersama.
"Masing-masing negara anggota memiliki kekuatan ekonomi sendiri. Jika dipadukan, itu justru menjadi satu kekuatan besar," ujarnya.
Ia menambahkan, pembahasan mengenai substansi kerja sama masih terus dilakukan secara lebih rinci.
Selain agenda substantif, pemerintah juga menyiapkan aspek teknis penyelenggaraan, termasuk lokasi KTT. Sugiono memastikan Jakarta akan menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin negara anggota D-8.
"Venuenya direncanakan di Jakarta. Kami sedang mencari tempat yang representatif," ucapnya.
Diketahui, Indonesia akan menjabat sebagai Ketua Developing-8 Organization for Economic Cooperation mulai 1 Januari 2026 untuk periode 2026–2027. Serah terima resmi keketuaan akan dilakukan pada KTT D-8 ke-12 yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada April 2026.
D-8 merupakan organisasi kerja sama ekonomi negara-negara berkembang yang beranggotakan Azerbaijan, Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Türkiye.
Organisasi ini mewakili sekitar 1,3 miliar penduduk dunia, dengan total Produk Domestik Bruto (PDB) kolektif sekitar USD 5,1 triliun, serta nilai perdagangan intra-D-8 mencapai kurang lebih USD 157 miliar.
Dengan cakupan geografis Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, dan Afrika, D-8 dinilai memiliki posisi strategis sebagai blok ekonomi penyeimbang sekaligus motor penggerak kerja sama ekonomi Selatan–Selatan.
(Awaludin)