Ia menambahkan, perkembangan neuroscience tidak hanya diterapkan pada video, image processing, maupun telekomunikasi, tetapi juga bisa dikaitkan dengan politik.
“Nah neuroscience ini berkembang terus, bukan hanya di dalam video, image, telekomunikasi, maupun lainnya, juga saya kira ke politik. Jadi, mereka yang bertanya tidak ada persinggungan antara neuroscience, artificial intelligence, dan politik. Itu orang yang kurang update,” kata Rismon.
Rismon menilai, sikap yang dianggap meremehkan tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap perkembangan AI saat ini. Ia pun berharap ruang berpikir dan kebebasan akademik tetap dijaga.
“Semoga Indonesia ke depan jangan sampai kaum pemikir justru dikriminalisasi. Kalau kaum pemikir takut menelurkan atau mengkreasi buku yang menurut penguasa dianggap tidak benar lalu dikriminalisasi, maka peradaban kita bisa mundur,” pungkasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.