Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Bareskrim Polri Dalami Dugaan Pembiaran Sebelum Anak Nizam Syafei Tewas

Puteranegara Batubara , Jurnalis-Rabu, 04 Maret 2026 |09:56 WIB
Bareskrim Polri Dalami Dugaan Pembiaran Sebelum Anak Nizam Syafei Tewas
Bareskrim Polri (foto: Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang (PPA-PPO) Bareskrim Polri melakukan asistensi dalam kasus tewasnya Nizam Syafei (13). Anak tersebut meninggal diduga akibat penganiayaan.

Direktur Tindak Pidana PPA-PPO Bareskrim Polri, Brigjen Nurul Azizah, mengatakan asistensi ini dilakukan agar kasus dapat ditangani secara profesional dan terbuka.

"Dari awal, kami di Mabes Polri sudah mengawal kasus ini melalui asistensi, agar penanganannya profesional," kata Nurul Azizah, Rabu (4/3/2026).

Nurul menambahkan, pihaknya akan mendalami dugaan pembiaran yang dilakukan oleh ayah Nizam saat sang anak sakit sebelum meninggal. Jika terbukti, ayah korban bisa dijerat pidana sesuai KUHP maupun UU Perlindungan Anak.

"Saat ini sedang kami dalami melalui Ditres PPA Polda Jawa Barat, apakah ada indikasi pembiaran atau tidak," ujarnya.
 

 

Dugaan pembiaran terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (2/3/2026).

Kuasa hukum ibu kandung Nizam, Mira Widyawati, membeberkan isi pesan singkat dari ayah korban, AS, yang dinilai janggal sebelum Nizam meninggal. Pada 15 Februari 2026, tiga hari sebelum Nizam meninggal, AS menghubungi ibu kandung korban, Lisnawati, melalui pesan singkat, memberitahukan bahwa Nizam sedang sakit.

Namun, jawaban AS terkait pengobatan membuat keluarga heran.

"Chat-nya isinya 'anaknya sakit' dalam bahasa Sunda. Saat ditanya apakah sudah dibawa ke dokter, jawabannya 'Belum'. Kenapa? 'Gak ada waktu'," ujar Mira menirukan percakapan tersebut.

Pada hari yang sama, AS mengirim pesan lain seolah memprediksi kematian Nizam:

"Minta maaf ya kalau misalnya anak ini tidak panjang umur. Mungkin akan dimakamkan di makam keluarga, dekat makam bapaknya atau kakeknya."

Padahal, saat pesan itu dikirim, Nizam masih berada di rumah dalam kondisi kritis. Mira menyebut pihaknya memiliki bukti video yang menunjukkan kondisi Nizam yang parah namun tetap dibiarkan di rumah.

"Kami menganalisis ini sebagai pembiaran atau penelantaran, sengaja tidak dibawa ke rumah sakit," ungkapnya.

Nizam dikabarkan meninggal pada 18 Februari dengan alasan sakit paru-paru. Tragisnya, Lisnawati yang datang dari Cianjur ke Sukabumi tidak sempat melihat wajah putranya karena jenazah sudah dikafani.

Mira juga menyoroti kejanggalan lain, yakni ketidakhadiran ayah Nizam di pemakaman. Selain itu, video viral detik-detik terakhir Nizam saat dirawat menunjukkan korban sempat menunjuk ke arah ibu tirinya sambil mengaku diberi minum air mendidih.

(Awaludin)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement