Sementara itu, Turino Yulianto dari PT Bukit Asam menegaskan bahwa batubara masih menjadi tulang punggung alternatif energi nasional. “Produksi batubara kita 817 juta ton per tahun, dengan potensi hampir 100 miliar ton. Ini harus diolah di dalam negeri,” kata Turino. Ia mendorong percepatan gasifikasi batubara sebagai substitusi LPG, mengingat impor LPG Indonesia mencapai jutaan ton per tahun.
Di sektor transportasi, Kukuh Kumara dari Gaikindo mengatakan industri sebenarnya sudah siap beradaptasi. “Kita sudah produksi mesin yang bisa E85 dan ekspor ke Brasil. Tinggal bahan bakarnya tersedia,” katanya.
Hal senada disampaikan Hari Budianto dari AISI. “Motor itu tulang punggung ekonomi masyarakat. Bahkan sejak 2005 kita sudah bisa pakai campuran etanol E5 sampai E10 tanpa perubahan mesin.”
Dari sisi sosial-ekonomi, Ketua Umum KSPSI, Jumhur Hidayat, justru mengambil posisi yang lebih pragmatis. “Menurut saya, tak soal harga BBM naik dulu, toh setelah perang bisa turun lagi, dibanding defisit yang makin besar,” kata Jumhur.
Jumhur juga melihat ada sisi peluang di balik krisis. “Para pekerja teknis justru mendapat kesempatan, karena mereka dibutuhkan untuk memitigasi krisis energi.”
Diskusi juga mencatat perlunya perubahan pola konsumsi energi masyarakat. Dalam kajian yang disampaikan, sektor transportasi masih menjadi penyedot terbesar BBM, termasuk dominasi kendaraan pribadi. Hal ini membuat transisi menuju energi alternatif, termasuk kendaraan listrik dan biofuel, menjadi semakin mendesak.