Ravio menjelaskan, timnya melakukan pemetaan terbalik untuk menelusuri pergerakan para pelaku sebelum kejadian. Sedikitnya 34 rekaman CCTV telah dianalisis dalam investigasi ini.
“Kami menggunakan metode pemetaan terbalik. Kami melihat kronologi dari setelah kejadian hingga beberapa jam sebelumnya,” ujarnya.
Dari rekaman tersebut, terlihat adanya koordinasi intens antar pelaku di sejumlah titik sebelum penyerangan, termasuk di kawasan Diponegoro dan sekitar YLBHI. Para pelaku juga disebut berpindah posisi dan melakukan komunikasi sebelum eksekusi.
“Jelas orang-orang ini saling mengenal. Mereka bukan orang acak, melainkan saling terhubung dan beraktivitas bersama,” papar Ravio.
Dalam pemaparan, disebutkan korban mulai dibuntuti sejak keluar dari Gedung YLBHI usai mengikuti kegiatan. Sejumlah orang diduga memberikan kode kepada eksekutor bahwa korban telah bergerak.
Serangan terjadi saat korban melintas di kawasan Salemba. Dua pelaku mendekat menggunakan sepeda motor dan menyiramkan cairan keras ke tubuh korban.
“Terjadi penyiraman terhadap Andrie. Ia oleng, jatuh, lalu berteriak kepanasan karena mengalami luka bakar instan,” ungkap Ravio.
Ia juga mengungkap dampak serius cairan tersebut terhadap tubuh korban.
“Baju Andrie melepuh, tas meleleh, begitu juga singlet dan beberapa bagian sepeda motor. Se-kuat itu cairan yang disiramkan,” ujarnya.