JAKARTA - Seorang driver ojek online (ojol), Donatus Darso diduga dianiaya sekelompok orang di kawasan Bandara Internasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin, 13 April 2026. Ojol yang biasa mengangkut penumpang di daerah Labuan Bajo tersebut mengaku trauma atas kejadian tersebut.
Donatus kemudian melaporkan insiden dugaan penganiayaan tersebut ke Polres Manggarai Barat. Ia berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas peristiwa yang dialaminya.
"Trauma. Sudah dua hari tidak kerja. (Berharap) proses hukum dan diusut sampai tuntas," kata Donatus, dikutip Rabu (15/4/2026).
Donatus menceritakan, kejadian tersebut bermula saat dirinya mendapat orderan untuk menjemput wisatawan perempuan asal Eropa di Bandara Komodo. Namun, Donatus diminta untuk tidak menjemput di area dekat bandara atas kesepakatan antara ojol dan sopir angkutan wisata setempat.
Donatus kemudian mengarahkan penumpang untuk bertemu di depan sebuah minimarket yang lokasinya cukup jauh dari pintu keluar bandara. Kata Donatus, penumpang tersebut menyetujui dan mendatangi lokasi tersebut.
Namun saat penumpang tiba, Donatus justru didatangi sekelompok orang. Sekelompok orang tersebut lantas membentak Donatus dan meminta penumpang turun dari sepeda motor, hingga berujung pada aksi penganiayaan.
Dalam kejadian itu, Donatus mengalami pemukulan dan tendangan hingga terjatuh di jalan raya. Ia juga sempat dicekik hingga lehernya memerah.
"Saya dipukul dan ditendang sampai jatuh di tengah aspal, untung tidak ada mobil lewat. Saya sempat bangun, naik motor lagi, tapi dipukul lagi," beber Donatus.
Sementara Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang memastikan pihaknya telah menerima laporan tersebut dan saat ini tengah melakukan pendalaman. Fokus penyelidikan diarahkan pada identifikasi pelaku serta pengungkapan motif di balik aksi kekerasan tersebut.
“Kami sudah menerima laporannya. Saat ini, tim penyidik tengah melakukan pendalaman untuk mengidentifikasi para pelaku,” kata Christian.
Hasil penyelidikan sementara, terduga pelaku pengeroyokan berjumlah tujuh hingga sembilan orang. Para pelaku diduga merupakan anggota AWSTAR (Asosiasi Angkutan Kendaraan Wisata Darat) yang beroperasi di kawasan Labuan Bajo.
Menanggapi kejadian ini, Wakil Ketua Komunitas Grab Komodo Cama Laing Labuan Bajo, Leonardus Efendi, menilai insiden tersebut sangat disayangkan, terlebih terjadi di wilayah yang menjadi wajah pariwisata Indonesia di mata dunia.
"Kami sangat menyayangkan aksi-aksi seperti ini (pengeroyokan dan provokasi). Hal ini jelas mencederai rasa aman bagi mitra pengemudi yang sedang bekerja," ujar Leonardus.
Menurutnya, sebagai destinasi super prioritas, Labuan Bajo seharusnya menjamin keamanan dan kenyamanan seluruh pihak, baik pelaku transportasi maupun wisatawan. Ia pun mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas dan memastikan proses hukum berjalan sampai tuntas.
"Tentu kami meminta pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku. Harus ada efek jera supaya ke depannya tidak ada lagi intimidasi atau kekerasan terhadap driver di area publik," tegasnya.
Selain penegakan hukum, ia juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan transportasi di kawasan bandara, termasuk aturan yang berlaku di lapangan.
Di satu sisi, Leonardus mengapresiasi langkah cepat Dinas Perhubungan (Dishub) dan kepolisian yang telah melakukan mediasi untuk meredam situasi.
"Kami apresiasi langkah mediasi dari Dishub dan kepolisian. Namun, kami juga mendorong adanya evaluasi mendalam terkait sistem pelayanan di bandara agar lebih transparan dan optimal," ujarnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.