Putaran pertama tidak menghasilkan keputusan, dengan mantan kepala biro politik Khaled Meshaal menang tipis dengan perolehan suara lebih banyak daripada Hayya, tetapi gagal melewati ambang batas yang dibutuhkan, menurut seorang pejabat Palestina yang mengetahui pemilihan tersebut.
Berdasarkan aturan internal Hamas, seorang kandidat harus memperoleh setidaknya 36 suara dari 69 anggota dewan pemilihan untuk terpilih secara langsung.
Dipahami bahwa putaran kedua diputuskan dengan sistem suara terbanyak (first-past-the-post).
Hamas sedang melewati salah satu periode tersulit dalam sejarahnya.
Kelompok ini—yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel, Inggris, AS, dan banyak negara lain—telah sangat melemah akibat perang Gaza, di mana sebagian besar pemimpin militer dan politik seniornya tewas, struktur pemerintahannya dibubarkan, dan sebagian besar wilayah Palestina hancur.
Perebutan kepemimpinan telah mengungkap kesenjangan strategis yang semakin lebar di dalam Hamas mengenai masa depannya.
Meshaal, yang sebelumnya memimpin gerakan tersebut selama beberapa dekade saat berada di pengasingan, dikaitkan dengan kepemimpinan tradisional Hamas.
Para pendukungnya berpendapat bahwa Hamas harus mengambil pelajaran dari perang tersebut, menjauh dari strategi yang terutama berpusat pada konfrontasi bersenjata, dan mengadopsi pendekatan politik yang lebih pragmatis sambil tetap mempertahankan tujuan inti gerakan tersebut.