JAKARTA - Bagi siswa MI Al-Hidayah di Pulau Kukusan, Manggarai Barat, memiliki ruang kelas yang layak bukan sesuatu yang selalu mereka rasakan. Sebelum direnovasi, keterbatasan ruang membuat sebagian siswa terpaksa mengikuti pelajaran di bawah pohon. Proses belajar pun tak jarang terganggu oleh kondisi lingkungan sekitar.
Kini, situasi tersebut mulai berubah. Dua ruang kelas MI Al-Hidayah telah selesai direvitalisasi sehingga sekolah yang sebelumnya hanya memiliki dua ruang yang bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, kini memiliki empat ruang kelas.
Revitalisasi itu dilakukan Direktorat Polairud Polda NTT pada Juni 2026. Kapolda NTT, Irjen Rudi Darmoko kemudian meresmikan hasil revitalisasi tersebut sekaligus menyerahkan bantuan kemanusiaan bagi warga dan tenaga pendidik yang terdampak gempa bumi Flores, Selasa 1 September 2026.
Untuk sampai ke Pulau Kukusan, perjalanan harus ditempuh menggunakan kapal dengan akses yang cukup terbatas. Letaknya yang jauh dari pusat aktivitas membuat kehidupan masyarakat, termasuk akses pendidikan, memiliki tantangan tersendiri.
Kepala MI Al-Hidayah, Husen, menceritakan kondisi sekolah sebelum renovasi.
"Perjuangan menyelenggarakan pendidikan di Pulau Kukusan memang tidak mudah. Dulu sebelum direnovasi pada Juni 2026 oleh Direktorat Polairud Polda NTT, hanya dua ruangan yang bisa digunakan untuk belajar. Sebagian siswa harus belajar di bawah pohon dan kegiatan belajar juga sering terganggu oleh kambing," kata Husen.