Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Rembuk Nasional di Malang, Pemerintah Dorong Santri Pramuka Jadi Generasi Pembaharu

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Senin, 05 Oktober 2026 |21:03 WIB
Rembuk Nasional di Malang, Pemerintah Dorong Santri Pramuka Jadi Generasi Pembaharu
Pemerintah Dorong Santri Pramuka Jadi Generasi Pembaharu
A
A
A

JAKARTA — Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong penguatan sinergi pendidikan pesantren dan kepramukaan. Karena memiliki nilai yang sejalan dalam membentuk generasi mandiri, berkarakter dan berakhlak.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat membuka Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI di Pondok Pesantren An-Nur II, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

‘’Rembuk mempertemukan unsur Kemenag dan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka membahas bentuk kelembagaan, arah pembinaan, dan tahapan pengembangan wadah kepramukaan bagi santri, pelajar madrasah, dan mahasiswa perguruan tinggi keagamaan,’’ ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Pesantren, Arsad Hidayat, Senin (5/10/2026).

Tantangan berikutnya kata Arsad adalah, mengubah peluncuran dan semangat perkemahan menjadi sistem pembinaan yang hidup di satuan pendidikan dan masyarakat.

Arsad menawarkan lima prinsip perencanaan: perluasan bertahap, mutu lebih dulu, berbasis data, inklusif, dan akuntabel. 

Dia juga mengajukan enam opsi awal krida, yaitu kerukunan dan dialog, ibadah dan literasi keagamaan, karakter dan kepemimpinan, ketahanan keluarga dan sosial, cinta alam atau ekoteologi, serta bakti dan kesiapsiagaan. Keenamnya ditegaskan sebagai rancangan untuk dibahas, bukan daftar krida resmi.

“Saka Amal Bhakti akan bertumbuh melalui pembinaan yang konsisten, keterampilan yang nyata, kemitraan yang kuat, dan pengabdian yang dapat dibuktikan,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Bina PMPDF Direktorat Jenderal Pesantren, Mastuki, menempatkan Saka Amal Bhakti sebagai titik temu kepanduan, nilai keagamaan, dan pengabdian. Ia merujuk pesan Menteri Agama agar santri dan anggota Pramuka bersikap proaktif, mampu menghadirkan solusi, dan menjaga ketenangan masyarakat.

Mastuki mengusulkan lima rumpun krida: harmoni, ekoteologi, kepedulian, literasi, dan kemandirian. Setiap rumpun dirancang bergerak dari kecakapan dasar, praktik lapangan, dan proyek layanan hingga portofolio karya.

 

Pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi keagamaan diposisikan sebagai tiga simpul pembinaan yang saling menguatkan.

Dalam hal tata kelola, ia menggarisbawahi dua jalur yang harus berjalan bersama. Kementerian Agama memberi substansi, sumber daya, dan basis satuan pendidikan, sedangkan kwartir menjaga metode, tata organisasi, dan mutu kepramukaan. Pusat menetapkan arah, daerah menghidupkan aksi.

“Pramuka Santri yang kita harapkan bukan hanya piawai berkemah dan berbaris. Ia mampu membaca masalah, menggerakkan kawan, merawat harmoni, lalu menghadirkan manfaat dengan akhlak yang baik,” pungkasnya.

Sekretaris Binamuda Kwartir Nasional, Rio Ashadi, menjelaskan, ada dua pilihan bentuk kelembagaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta petunjuk penyelenggaraan Kwartir Nasional.

Menurutnya, jika Kementerian Agama ingin menghimpun peserta didik madrasah dan pesantren di semua jenjang, bentuk Sako lebih sesuai dengan ketentuan Gerakan Pramuka. Jika bentuk Saka yang dipilih, pembinaannya berfokus pada Penegak dan Pandega dengan keterampilan khusus di bidang keagamaan, kerukunan umat beragama, dan pengabdian masyarakat.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement