Yaman telah porak-poranda akibat perang saudara yang bermula pada tahun 2014, saat kelompok Houthi menggulingkan pemerintah dari Sanaa. Konflik tersebut kian memanas pada 2015 setelah koalisi negara-negara Arab pimpinan Saudi melakukan intervensi militer untuk memulihkan kekuasaan pemerintah.
Gencatan senjata informal yang telah berlangsung selama empat tahun mulai goyah pada Juli lalu, ketika Houthi mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi. Mereka mulai melancarkan serangan rudal dan drone ke bandara, fasilitas minyak, serta kapal tanker Saudi di Laut Merah. Houthi berkali-kali menyatakan bahwa tindakan mereka merupakan balasan atas blokade Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah mereka, serta serangan udara di bandara Sanaa.
Bulan lalu, Houthi melancarkan serangan mendadak di sepanjang pesisir barat daya Yaman yang menghadap Laut Merah. Mereka mengusir pasukan pro-pemerintah dari wilayah-wilayah yang menguasai akses ke Selat Bab al-Mandab, termasuk Dhubab, Mokha, dan Pulau Perim (Mayyun). Houthi menegaskan tidak akan mengancam pelayaran internasional umum di jalur tersebut, melainkan hanya menargetkan kapal-kapal milik Arab Saudi.
Menurut data Kementerian Kesehatan pemerintah setempat, setidaknya 959 orang tewas dan 5.000 orang terluka dalam pertempuran di Yaman sejak 6 Agustus lalu. PBB melaporkan sebanyak 197.000 warga lainnya terpaksa mengungsi.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.