Laporan itu menambahkan, kerugian pesawat lainnya yang tercatat meliputi dua pesawat A-10 Thunderbolt II, dua pesawat operasi khusus MC-130J, dan satu pesawat peringatan dan kendali udara E-3 Sentry.
Di antara helikopter yang dilaporkan hancur, satu unit AH-64 Apache ditembak jatuh di atas Selat Hormuz, empat unit AH-6 Little Bird hilang dalam operasi penyelamatan, dan satu unit MH-60 Sea Hawk jatuh di Laut Arab pada pertengahan September.
Menurut laporan tersebut, armada drone MQ-9 Reaper milik AS mengalami tingkat kehilangan tertinggi, dengan setidaknya 45 unit hancur selama konflik dengan Iran.
CRS menyatakan bahwa ada beberapa masalah yang perlu mendapat pengawasan Kongres, termasuk apakah Pentagon memiliki dana untuk mengganti pesawat yang rusak dan apakah hilangnya platform lama—yang persediaannya terbatas—dapat menimbulkan celah kemampuan bagi militer AS.
Bulan lalu, Congressional Budget Office (CBO) menyebutkan bahwa konflik dengan Iran telah menelan biaya sekitar USD38 miliar (Rp680 triliun) bagi AS dalam lima bulan pertama. Lembaga tersebut memperingatkan bahwa biaya itu bisa bertambah antara USD2 miliar hingga USD3 miliar (Rp35,78 triliun hingga Rp53,67 triliun) untuk setiap bulan tambahan pertempuran.
Iran telah meningkatkan kapasitas produksi senjatanya hingga 2,5 kali lipat dibandingkan tingkat sebelum perang, ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, pada Selasa. Ia juga memperingatkan bahwa setiap agresi lanjutan dari AS akan dibalas dengan tindakan tegas oleh Teheran. Talaei-Nik menegaskan bahwa Republik Islam tersebut saat ini memproduksi lebih dari 1.000 jenis sistem persenjataan dan amunisi, yang banyak di antaranya telah mengalami peningkatan teknologi selama konflik berlangsung.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.