WASHINGTON — Laporan media Amerika Serikat (AS) menyebutkan bahwa Gedung Putih telah meminta Pentagon untuk menyusun opsi serangan militer yang menargetkan Iran, yang dapat dilaksanakan sebelum pemilihan umum sela AS pada 3 November.
Menanggapi laporan tersebut, seorang pejabat Pentagon menyatakan, "Tugas Departemen ini adalah menyusun dan menyajikan opsi-opsi militer kepada Presiden." Pejabat tersebut tidak membenarkan maupun membantah adanya perencanaan khusus tersebut.
Sebuah laporan berita di The Atlantic menyebutkan bahwa cakupan, daftar target, dan persetujuan akhir untuk potensi serangan tersebut masih menjadi bahan perdebatan internal; sejumlah penasihat presiden berpendapat bahwa waktu strategis untuk melancarkan serangan lebih tepat dilakukan setelah pemilihan umum sela guna menghindari lonjakan harga bahan bakar di dalam negeri.
Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa Presiden Donald Trump "memiliki semua opsi yang tersedia setiap saat", seraya menambahkan: "AS berada dalam posisi yang sangat kuat... Presiden Trump memegang kendali penuh dan akan melakukan apa pun yang terbaik bagi Amerika Serikat."
Axios mengungkapkan pada Rabu (7/10/2026) bahwa Pentagon telah menginstruksikan Komando Pusat AS (CENTCOM) beberapa hari yang lalu untuk merampungkan persiapan guna melanjutkan operasi tempur besar-besaran terhadap Iran, yang mencakup sasaran di sektor energi, infrastruktur, dan fasilitas nuklir.
Meskipun arahan tersebut tidak menetapkan tanggal pasti dimulainya operasi, sumber-sumber dari AS dan Israel mengindikasikan bahwa tindakan tersebut dapat berlangsung bersamaan dengan pemilihan umum parlemen Israel pada 27 Oktober.
Perencanaan ini menyusul pertemuan panjang di Camp David yang diadakan pada Jumat (2/10/2026) oleh tim keamanan nasional Trump.
Pada Rabu, Trump berbicara secara langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu—percakapan kedua mereka dalam beberapa hari terakhir—setelah Netanyahu membahas situasi tersebut dengan kabinet keamanannya.
Setiap upaya melanjutkan serangan ofensif akan melibatkan operasi gabungan antara pasukan AS dan Israel.
Permusuhan secara langsung telah dimulai pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran, yang memicu serangan balasan rudal di kawasan serta gangguan di Selat Hormuz.
Meskipun sebuah nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar sempat menghentikan sementara konflik pada bulan Juni, negosiasi diplomatik kini menemui jalan buntu terkait tuntutan nuklir, sanksi, dan akses pelayaran maritim.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.