3. Dari Protes Warga Pesisir Menjadi Kejahatan Laut Terorganisasi
Pada tahap awal, serangan perompak umumnya menyasar perahu nelayan dan kapal pukat asing berukuran kecil, bukan kapal dagang besar. Sejumlah sumber mencatat bahwa sebagian masyarakat lokal kala itu memandang perompak sebagai pihak yang membela kedaulatan Somalia dari pelanggaran oleh pihak luar.
Namun, pandangan tersebut tidak bertahan lama. Sejak pertengahan 2000-an, para perompak mulai menyasar kapal dagang, memperluas jangkauan operasi, dan membangun jaringan lintas negara.
Puncak perompakan terjadi pada periode 2007–2011. Kapal-kapal dibajak untuk meminta uang tebusan, dengan nilai tebusan sepanjang 2005–2012 diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS.
Perkembangan tersebut membuat perompakan berubah dari persoalan yang berkaitan dengan konflik sumber daya laut di tingkat lokal menjadi kegiatan kriminal terorganisasi yang melibatkan jaringan lintas negara.
Setelah mencapai puncaknya pada 2011, kasus perompakan menurun tajam sejak 2012. Penurunan tersebut didukung oleh patroli angkatan laut multinasional, penempatan personel keamanan bersenjata di kapal dagang, serta berbagai langkah antip erompakan lainnya.
Menurut publikasi “Revisiting the fisheries–piracy nexus in Somalia: illegal fishing, governance collapse, and maritime crime”, tidak ada kapal komersial yang tercatat berhasil direbut di lepas pantai Somalia sejak Mei 2012.
Pada akhirnya, maraknya perompakan di Somalia tidak disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan rangkaian persoalan yang berkembang secara bertahap. Runtuhnya pemerintahan dan lemahnya pengawasan laut, penangkapan ikan ilegal yang menekan penghidupan warga pesisir, serta berkembangnya jaringan kriminal terorganisasi menjadi bagian dari rangkaian faktor yang menjelaskan fenomena tersebut.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.