BENGKULU - Indonesia kembali berduka, gempa berkekuatan 7,4 skala richter (SR) mengguncang Sulawesi Tengah (Sulteng), pada Jumat 28 September 2018, sekira pukul 17.02 WIB. Gempa yang terletak pada koordinat 0.18 lintang selatan (LS) dan 119.85 bujur timur (BT), berjarak 26 kilometer (KM) Utara, Donggala, dengan kedalaman 10 km tersebut diiringi dengan gelombang tsunami.
Dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Selasa 2 Oktober 2018, pukul 13.01 WIB, dalam bencana alam tersebut mengakibatkan korban jiwa, 1.234 orang meninggal dunia, 799 orang mengalami luka berat, 99 orang dinyatakan hilang, korban tertimbun 152 orang. Bahkan, saat ini jumlah pengungsi sudah mencapai 61.867 jiwa yang tersebar di 109 titik dan rumah rusak 65.733 unit.
Sebelumnya, gempa berkekuatan 7,0 SR mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu 5 Agustus 2018, sekira pukul 18.46 WIB. Berdasarkan data dari Posko PDB Provinsi NTB yang diterima BNPB, pada 1 Oktober 2018, saat ini korban jiwa sebanyak 564 orang meninggal dunia, luka-luka sebanyak 1.584 orang
Selain NTB dan Sulteng, provinsi di Indonesia lainnya juga termasuk dalam daerah rawan gempa dan tsunami adalah Bengkulu.
(Baca Juga: Status Netizen di 2015 Soal Jembatan Kuning di Palu Jadi Kenyataan)
Dari hasil pengolahan gempa bumi yang teranalisa dari Strageof KSI, Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, menghitung sejak awal September 2018 hingga 3 Oktober 2018, provinsi berjuluk "Bumi Rafflesia" ini telah terjadi gempa sebanyak 51 kali gempa dengan rata-rata magnitude (SR) 3,7.
Di mana untuk jumlah gempa bumi yang dirasakan di wilayah Bengkulu dan sekitarnya, terdapat 5 kejadian gempa bumi pada September 2018. Di mana gempa bumi terasa dengan magnitude terbesar 5,3 SR, pada Minggu 12 September 2018, sekira pukul 14.27 WIB, dengan lokasi gempa bumi di 127 km Barat Daya Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan.
"Bengkulu termasuk dalam rawan bencana gempa," kata PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Sabar Ardiansyah, saat di konfirmasi Okezone, Rabu (3/10/2018).