Pelajaran yang Bisa Dipetik
Dalam kasus gempa di Palu dan Donggala, gelombang tsunami datang dalam waktu begitu singkat. Hanya berselang kurang lebih 11 menit setelah terjadi gempa, gelombang tsunami menghantam dan meluluhlantakan bangunan di pesisir pantai. Waktu yang begitu singkat tentu tidaklah cukup mengambil tindakan evakuasi jika harus menunggu informasi dan perintah evakuasi dari pemerintah.
Sabar menyampaikan, untuk masyarakat yang tinggal di pesisir pantai tindakan yang paling tepat, adalah apabila merasakan gempa kuat, masyarakat harus mengambil tindakan evakuasi mandiri mencari tempat yang lebih tinggi. Guncangan gempa kuat yang pertama yang dirasakan sebagai alarm sesungguhnya. Jika gelombang tsunami tidak terjadi setelah menyelamatkan diri, sampai Sabar, maka masyarakat sudah melatih kesiapsiagaan dan bersyukur diselamatkan dari bahaya yang lebih besar.
"Sudah sepatutnya kita yang tinggal di kawasan aktif kegempaan untuk merealisasikan bangunan tahan gempa. Pemerintah setempat harus mengevaluasi bangunan-bangunan publik, baik pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran, dan sekolah semua harus menerapkan standar bangunan tahan gempa," ujar Sabar.
(Baca Juga: Jokowi Tinjau Hotel Roa-Roa dan Kabupaten Donggala)
"Kita juga harus peduli dan mau menjaga peralatan yang menyangkut kepentingan orang banyak. Dalam kasus ini banyaknya komponen sensor gempa bumi yang di curi. Begitu juga dengan peralatan pendeteksi tinggi gelombang di laut yang di ganggu dan di curi, maka hal ini jangan lagi terjadi mengingat kegunaanya yang sangat penting," sambung Sabar.
Ujian yang melanda Indonesia melalui bencana gempa bumi dan tsunami ini, terang Sabar, sudah selayaknya menjadikan semua komponen masyarakat Indonesia, semakin sadar atas pentingnya ilmu mitigasi bencana. Selain itu, sampai Sabar, masyarakat musti mengenali jalur evakuasi di sekitar tempat tinggal masing-masing.
"Jangan sampai saat terjadi gempa kuat, kita tidak tahu harus menyelamatkan diri ke arah mana. Maka jalur evakuasi musti di ketahui masyarakat kemana saja kita harus pergi menyelematkan diri," jelas Sabar.
Kegiatan simulasi gempa kuat di lingkungan gedung bertingkat, terang Sabar, merupakan salah satu upaya melatih kesiapsiagaan sebelum menghadapi gempa yang sesungguhnya. Selain melatih kesiapsiagaan serta seberapa besar kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan fasilitas kantor, kegiatan simulasi gempa kuat juga bisa menjadi salah satu tolak ukur seberapa besar kapasitas dan fasilitas yang dimiliki.
"Kondisi gedung bertingkat tidaklah sama dengan gedung satu lantai, sehingga gedung bertingkat memerlukan jalur evakuasi yang tertata rapi dan dikuasai oleh penghuni gedung serta mudah dipahami oleh tamu yang berkunjung," pungkas Sabar.
(Angkasa Yudhistira)