Awalnya, pasukan VOC kewalahan terhadap perlawanan dari Cakraningrat IV, tapi arus berbalik. Akhirnya Cakraningrat IV terpaksa lari ke Banjarmasin. Namun, Sultan Banjarmasin mengkhianati dan menyerahkan Cakraningrat IV kepada VOC.
Selanjutnya, Cakraningrat IV dibawa ke Batavia dan dibuang ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Karena itu, ia mendapat julukan dari rakyat sebagai Panembahan Siding Kaap. Di daerah pengasingannya, Raden Djurit sempat menyebarkan agama Islam.
"Dinasti Cakraningrat hanya ada empat. Pertama, Raden Prasena; disusul Raden Undaan; lalu Cakraningrat III yakni Raden Tumenggung Sosro Adiningrat; terakhir, Raden Djurit sebagai Cakraningrat IV," terang seorang Budayawan asal Bangkalan, Raden Abdul Hamid Mustari.
Menurut Hamid, Raden Djurit adalah sosok raja yang dikenal pemberani dan ahli perang. Dia merupakan pangeran paling tampan di antara Pangeran Bangkalan yang lain. Raden Djurit sendiri mempunyai enam permaisuri.
"Permaisuri yang terakhir putri dari Kerajaan Bali, Raden Ayu Siti Khotijah. Saat itu Raja Bali mengeluarkan sayembara: 'Barang siapa yang bisa mengobati anaknya (Raden Ayu Siti Khotijah) yang sedang sakit maka akan dijadikan suami anaknya bila lelaki, tetapi jika wanita akan dijadikan saudara anaknya'," papar Hamid.