Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pahit Burhan "Kampak", Algojo Pembantai PKI

Kisah Pahit Burhan
Burhan "Kampak", sang Algojo Pembantai PKI (Foto: BBC)
A
A
A

YOGYAKARTA – Burhan “kampak”, pria berusia 75 tahun, mengaku telah membantai "orang-orang PKI" di Yogyakarta setelah G30S 1965.

“Saat itu, pilihannya membunuh atau dibunuh,” ungkapnya. Kini dia memimpin Front Anti Komunis Indonesia, (FAKI), di Yogyakarta.

Berikut wawancara wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, dengan Burhan.

“Maafkan saya Pak Heyder. Sudah menunggu lama ya. Saya harus menjemput cucu saya pulang dari sekolahnya,” kata pria bernama lengkap Burhanuddin ZR itu.

Di teras rumahnya, dia kemudian menurunkan cucu perempuannya dari motor bebek dan mempersilakan Heyder masuk ke ruangan tamu. Pagi itu, Pak Burhan mengenakan kemeja denim dan celana jeans.

Kediamannya tidak jauh dari bangunan Museum Perjuangan Yogyakarta di Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Yogyakarta.

“Ini daerah basis,” ungkapnya seperti setengah berbisik. Saya tidak bertanya lebih lanjut, tapi saya memahaminya sebagai “basis Partai Komunis Indonesia, PKI”. Saya bukan asli sini, saya dari kampung Kauman, tambahnya.

Di ruangan tamu, yang dibatasi lemari pajangan dengan berbagai cindera mata, tampak semacam cindera mata bergambar mantan Presiden Suharto.

Sebuah jam dinding dengan tulisan dan logo baret merah Komando Pasukan Khusus alias Kopassus, pasukan elit Angkatan Darat TNI, menempel di salah satu sudut dindingnya.

“Itu baret merah, RPKAD (Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat). Saya ada ikatan batin sejak dulu,” katanya di sela-sela wawancara, seraya tangannya menunjuk jam dinding tersebut. “Saya keluarga besar Kopassus.”

Mengapa dipanggil Burhan “Kampak”?

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement