Share

Terancam Punah, Paus Masih Saja Diburu Besar-besaran

Kamis 10 Desember 2015 10:56 WIB
https: img.okezone.com content 2015 12 10 18 1264525 terancam-punah-paus-masih-saja-diburu-besar-besaran-ykHxDKLyia.jpg Paus masih saja diburu besar-besaran (Ilustrasi: BBC)

KELOMPOK peretas Anonymous baru-baru ini merusak beberapa situs pemerintahan Islandia sebagai protes terhadap praktik perburuan paus di negara tersebut.

"Paus tak punya suara. Kami menjadi suara mereka. Saatnya menyuarakan awal dari kepunahan suatu spesies. Saatnya Islandia mengetahui bahwa kami tidak akan diam saja dan melihat hewan ini menuju kepunahan," kata Anonymous.

Islandia bukan satu-satunya negara yang masih melakukan praktik perburuan paus: Norwegia dan Jepang juga melakukannya, begitu pula beberapa populasi yang lebih kecil.

Praktik ini sering membuat heran dan jijik orang-orang dari berbagai belahan dunia lain. Jika banyak orang yang menentangnya, lalu kenapa negara-negara ini masih berburu paus?

Pada 1986, karena populasi paus menurun dan kemarahan meluas terhadap praktik tak manusiawi ini, Komisi Perburuan Paus International (IWC), mengeluarkan moratorium global terhadap perburuan paus secara komersial.

Islandia menandatangani moratorium tersebut, tapi melakukannya "di bawah kehati-hatian". Artinya, berburu paus tak sepenuhnya ilegal di Islandia, sepanjang dilakukan sesuai aturan. Islandia berburu dua spesies paus yang khusus: paus minke dan paus sirip.

Pada 2015, pemburu paus Islandia dibolehkan berburu 154 paus sirip dan 229 paus minke, sesuai kuota yang ditetapkan oleh Kementerian Perikanan dan Pertanian.

Laporan yang diterbitkan pada 30 September oleh Lembaga Penyiaran Islandia mengatakan bahwa mereka sudah memburu habis kuota paus sirip mereka tahun ini, tapi hanya 29 paus minke. Perburuan paus sangat jelas terlihat jika Anda datang ke negara tersebut.

Pada awal 2015, reporter BBC, Melissa Hogenboom mengambil gambar di Islandia, dan di sebuah restoran, dia kolega melihat bahwa daging paus banyak tersedia. Mereka (pihak restoran) merujuk soal itu pada kontak mereka di Islandia.

Dia memberikan dua pembenaran. Pertama, ada terlalu banyak paus di lautan dan mereka memakan semua ikan lain. Yang kedua, warga Islandia tidak makan daging paus: turislah yang melakukannya.

Klaim pertama itu sangat bisa dibantah. "Berbanding terbalik dengan keyakinan umum, paus tak memakan semua ikan di lautan di sekitar Islandia," kata Konservasi Paus dan Lumba-lumba (WDC), menyitir laporan 2004.

Baik paus minke dan paus sirip mengkonsumsi diet yang bervariasi, termasuk plankton, krill, dan ikan kecil, menurut Badan Perikanan Kelautan Nasional Amerika Serikat (NOAA).

Meski begitu, poin kedua yang diajukan kontak kami tadi benar. Menurut WDC, hanya 1,7 persen dari warga Islandia yang makan daging paus.

Populasi Islandia cukup kecil, jadi artinya itu hanya sekitar 5.600 orang. Sebagai perbandingan, 35-40 persen pengunjung Islandia makan daging paus, namun kini angka ini turun, menurut Organisasi Internasional untuk Kesejahteraan Hewan.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Tetapi masih banyak daging paus yang tersisa. Anehnya, hampir tak ada dari paus sirip yang ditangkap di Islandia akan dimakan di sana. Daging paus sirip diekspor ke Jepang, di mana permintaan pasar cukup besar.

Kementerian Perikanan Islandia mengatakan bahwa praktik perburuan paus mereka "berkelanjutan dan sesuai aturan hukum dari IWC".

Mereka mengklaim bahwa paus sirip mereka cukup banyak dan bahwa Islandia adalah "pendukung kerjasama internasional dalam memastikan penggunaan sumberdaya kelautan secara berkelanjutan".

Data terbaik yang tersedia untuk populasi paus membuktikan bahwa pemerintah Islandia benar.

Paus minke ditemukan di seluruh samudera dunia. Organisasi lingkungan IUCN mendaftar spesies ini dalam kategori "terdampak minimum". Artinya mereka tidak menghadapi bahaya kepunahan. IUCN mengestimasi bahwa ada 10 ribu paus minke di laut lepas, maka mungkin saja untuk terus memburu mereka tanpa membahayakan spesies.

Namun paus sirip adalah spesies yang terancam punah, dan menurut IUCN, perburuan paus komersil pada abad 19 dan 20 adalah sebab utamanya. Dalam kasis ini pun masih tak jelas apakah praktik perburuan paus di EIslandia menjadi penyumbangnya.

Sambil IUCN menilai apakah satu spesies terancam, mereka juga melihat populasinya di seluruh dunia. Dan pada setiap spesies, mungkin ada populasi lokal yang terdampak jumlahnya secara kritis dan lainnya lebih sehat.

"Saat Anda berbicara soal perburuan paus, Anda merujuk pada satu populasi khusus, bukan satu spesies," kata Kate Wilson dari IWC.

Populasi paus sirip Atlantik Utara tergolong cukup sehat. Populasinya di bagian laut lainlah yang rendah dan membuat spesies ini tergolong terancam punah.

Atas alasan itu, berburu paus sirip di Islandia bukanlah ancaman terhadap kelestarian lingkungan, kata Geneviève Desportes dari Komisi Mamalia Laut Atlantik Utara. "Tak ada dampaknya, perburuan paus ini berkelanjutan dari jangka panjang."

Perburuan paus adalah tradisi lama di islandia dan membawa pemasukan buat komunitas kecil, kata Desportes. "Organisasi kami berpendapat bahwa Anda bisa menggunakan sumber daya kelautan, selama Anda melakukannya dengan cara yang bertanggungjawab dan berkelanjutan."

Sebuah penelitian pada 2008 mempertanyakan apakah praktik perburuan di Islandia aman buat lingkungan. Tim peneliti melaporkan bahwa ada "penurunan yang signifikan" pada jumlah paus Minke dekat pantai Islandia sejak survey terakhir mereka.

Namun, sulit untuk menghitung perkiraan populasi paus yang akurat. "Makhluk-makhluk ini menghabiskan 80 persen waktu mereka di laut, sehingga ilmu untuk mendapat angka yang akurat cukup menyita waktu dan mahal," kata Wilson.

Meski begitu, Islandia, dan beberapa negara lain yang masih melakukan perburuan paus, yakin praktik tersebut bisa aman terhadap lingkungan, setidaknya untuk populasi paus tertentu.

"Maka, satu-satu alasan tak membolehkannya adalah atas alasan kesejahteraan, emosional, atau kebudayaan," kata Wilson. Termasuk keengganan untuk melihat paus menderita, tak jelas apakah mungkin untuk membunuh hewan sebesar itu di lautan secara manusiawi, atau rasa jijik terhadap aksi pembunuhan hewan yang cerdas.

"Dalam budaya mereka, persoalan-persoalan ini tidak ada. Sejauh yang mereka pikirkan, tak ada alasan yang menghalangi mereka berburu paus."

Pemerintah Jepang punya pandangan yang sama, pro terhadap perburuan paus, dengan alasan mereka ingin melanjutkan penelitian ilmiah, dan itu dibolehkan oleh IWC.

Pekan lalu, sebuah kapal Jepang berangkat menuju Antartika untuk berburu 333 paus Minke, dan mencari tahu berapa banyak paus yang hidup di sekitar Antartika.

Meski begitu, program perburuan paus ilmiah Jepang banyak mendapat kecaman karena hampir tak pernah menghasilkan laporan penelitian. Sebagian besar paus berakhir jadi santapan di restoran.

Terlebih lagi, laporan yang terbit pada 2013 menyimpulkan bahwa industri daging paus bahkan tak menguntungkan, dan harus disubsidi oleh pemerintah Jepang.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini