Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

NEWS STORY: Lirih Keluarga Jenderal Yani di Sasmitaloka Tragedi Berdarah

Randy Wirayudha , Jurnalis-Minggu, 15 Januari 2017 |16:05 WIB
NEWS STORY: Lirih Keluarga Jenderal Yani di Sasmitaloka Tragedi Berdarah
Jenderal (Anumerta) TNI Ahmad Yani (Foto: Randy Wirayudha/Koleksi Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani)
A
A
A

SEBUAH rumah di sudut Jalan Lembang Nomor 58, Jakarta Pusat, masih tampak asri dan rapi dengan dihiasi sebuah patung gagah seorang jenderal. Tepat di pojok jalan terdapat tulisan Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI A Yani.

Ya, tempat ini dulunya adalah rumah mendiang Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen (Anumerta Jenderal) Ahmad Yani. Rumah pribadi sang jenderal yang jadi saksi bisu tragedi pembunuhan terhadapnya pada suatu dini hari 1 Oktober 1965.

Sapaan ramah dan akrab merangkul penulis dari salah satu penjaganya, Serma Wawan Sutrisno. Untuk masuk ke rumah yang sudah dijadikan museum di bawah naungan Dinas Sejarah Angkatan Darat (Disjarhad) ini, kita harus melepas alas kaki.

Dari pintu samping tepat di depan pajangan mobil Chevrolet Impala milik sang jenderal, penulis masuk ke sebuah ruangan yang memasang beragam foto sang jenderal semasa hidup. Tidak ketinggalan foto-foto dari cuplikan film legendaris “Pengkhianatan G30S/PKI”.

“Ini Mbok Milah, ikut serta main film itu. Dia dulu salah satu pembantu (asli) yang ada di rumah Pak Yani,” jelas Wawan saat menunjuk sebuah foto perempuan tua di antara foto-foto cuplikan film tersebut.

Dari ruangan itu, penulis mengarahkan kaki ke sebuah lorong dan pintu yang jadi “Ground Zero” penembakan Jenderal Yani. Tujuh peluru menembus tubuhnya dan beberapa bekas timah panas masih terlihat di kaca yang ada di pintu tersebut.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement