Selangkah dari pintu itu, terdapat lantai bertuliskan: “Di sinilah gugurnya pahlawan revolusi Djenderal TNI A Yani pada tanggal 1 Oktober 1965, djam 04.35, Djakarta, 1 Djanuari 1970.”
Jadi di sinilah Jenderal Yani roboh setelah diterjang peluru sejumlah oknum Pasukan Tjakrabirawa kala itu. Lantai yang memendam kenangan pahit tak jauh dari ruang keluarga.
Di ruang itu pula penulis bertemu salah satu putri Jenderal Yani, yakni Amelia A Yani, yang dengan ramah mempersilakan duduk di kursi meja makan. Di meja itu pula Amelia A Yani berkenan mengisahkan kenangan tragis malam itu yang kebetulan, sang istri Yayuk A Yani, tengah menginap di rumah dinas di Taman Suropati.
“Jam 12 malam sebelumnya itu ada yang telefon, enggak tahu dari siapa tapi tanyain Bapak terus. Kita bilang (Pak Yani) sudah tidur. Terus ada telefon lagi tanya yang sama, kita bilang: ‘Jangan macam-macam ya, ini rumah Jenderal Yani.’ Setelah itu enggak ada telefon lagi,” tutur Amelia mengawali kenangannya.
Di malam itu hanya ada Jenderal Yani dan anak-anaknya di rumah pribadinya di Jalan Lembang D58. Sementara sang istri, Yayuk Rulia Soetodiwirjo, tengah menginap di rumah dinas Jenderal Yani di kawasan Taman Suropati.
“Pas subuh sekitar jam setengah lima itu datang bus-bus dan truk-truk menderu-deru. Datang Tjakrabirawa, sementara garnisun penjaga di rumah sudah terkejut duluan dan dilucuti,” imbuhnya kepada Okezone.