Saat sudah masuk dari pintu samping, pasukan Tjakrabirawa mendapati putra bungsu Jenderal Yani, Irawan Sura Eddy Yani, yang terbangun dari tidurnya. “Eddy saat itu terbangun karena nyariin ibu, seliweran sama Mbok Milah di rumah. Di dekat pintu itulah dia ketemu sama tentara,” sambungnya.
“Eddy disuruh bangunkan Bapak. ‘Pak, itu ada Tjakrabirawa.’ Begitu Eddy bilang ke Bapak di kamar. Setelah Bapak bangun, ada suara bentak-bentakan dan di situlah salah satu pasukan Tjakrabirawa dipukul Bapak. Setelah Bapak balik badan untuk ganti pakaian, langsung diberondong,” ungkap Amelia yang matanya mulai tampak berkaca-kaca.
Amelia mengisahkan, di saat itu pula Eddy bersembunyi di belakang mesin jahit yang ada di lorong dekat Jenderal Yani diberondong peluru. Sontak, anak-anak Jenderal Yani yang lain dan tengah terlelap, terbangun.
“Eddy sembunyi di belakang mesin jahit, dia ketakutan. Suara tembakan itu seperti halilintar yang membangunkan kita semua. Dari arah kamar, saya lihat ada kaki yang ditarik. Itu kan Bapak! Itu terakhir saya lihat Bapak dengan mata terpejam. Kita mau mengejar, tapi tentara kokang senjata semua. Katanya kita akan dihabisi semua kalau mengikuti mereka,” tuturnya.
Amelia dan anak-anak yang lain seakan tak percaya atas kejadian itu, bagaikan mimpi katanya. Ibu mereka, Yayuk A Yani, baru datang sekira jam 5 pagi dari rumah dinas di Taman Suropati, diikuti salah satu ajudan, Mayor Subardi.
“Ibu datang, terus pingsan sebentar. Setelah bangun, Ibu teriak-teriak cari Bapak. Terus Om (Mayor) Bardi juga datang dan kita nangis-nangis meluk dia. Ibu mengusap sisa darah di lantai dan bilang kalau seperti ini, Bapak sudah enggak ada (meninggal),” lanjut Amelia.