Indonesia Dorong Terciptanya Arsitektur Kawasan Indo-Pasifik

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Senin 15 Januari 2018 19:02 WIB
https: img.okezone.com content 2018 01 15 18 1845328 indonesia-dorong-terciptanya-arsitektur-kawasan-indo-pasifik-gtpyxN04Y4.jpg Kementerian Luar Negeri RI (Foto: Antara)

JAKARTA – Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno LP Marsudi, mengenalkan konsep arsitektur kawasan Indo-Pasifik kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson. Konsep arsitektur kawasan Indo-Pasifik diharapkan dapat menjadi adil, terbuka, dan transparan bagi terciptanya kawasan damai, stabil, dan sejahtera.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir menerangkan, konsep arsitektur kawasan Indo-Pasifik tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN). Sebab, selama 50 tahun berdiri ASEAN mampu menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan.

“Arsitektur kawasan ASEAN sudah berjalan dengan baik dan mature. Di sisi lain, banyak potensi di Samudera Hindia yang belum digarap. Dari situ kita mencoba mencegah krisis di kawasan Samudera Hindia dan Asia Tenggara. Maka itu adalah awal mula terciptanya IORA,” urai Arrmanatha kepada awak media di Anomali Coffee, Jakarta Pusat, Senin (15/1/2018).

Ia menambahkan, Samudera Hindia sangat penting sebab sepertiga dari kapal kargo dunia melewati perairan tersebut. Apalagi, sekira 100 ribu kapal tanker melewati Samudera Hindia setiap tahun. Maka, tidak stabilnya kawasan Samudera Hindia dan ASEAN akan berdampak pada dunia, terutama Pasifik.

(Peta arsitektur kawasan Indo-Pasifik. Hijau mitra Indonesia dalam IORA. Foto: Wikanto Arungbudoyo/Okezone)

Indonesia saat ini sedang coba menjalin kerjasama bilateral yang lebih erat dengan negara-negara kuat di Samudera Hindia, seperti India dan Australia. Dari titik tersebut dapat dipahami mengapa Presiden Indonesia Joko Widodo mengawali kunjungan kenegaraan pada 2018 dengan mengunjungi India.

“Kenapa Presiden di awal 2018 ini ke Asia Selatan? Kenapa kunjungan pertama menteri luar negeri ke Indonesia dari India? Itu semua grand design dari Indo-Pasifik,” terang Arrmanatha.

“Indonesia mendorong terciptanya kawasan Indo-Pasifik dengan ekosistem yang stabil dan damai lewat kerjasama yang transparan, terbuka, dan inklusif. Kita ingin mendorong lewat kebiasaan berdialog dan pembangunan kepercayaan yang sukses dilakukan di ASEAN,” imbuh pria berkacamata itu.

Namun, menurut Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Cecep Herawan, kerjasama yang terjalin tidak melulu harus politik, tetapi juga ekonomi dan teknik. Perlu dicari kerjasama bilateral seperti apa yang bisa ditingkatkan dengan India dan Australia.

“Kita harus mencari irisan-irisan mana yang bisa jadi program kerjasama berdua (bilateral). Tiga roda itu (politik, ekonomi, dan teknik) harus jalan bersama,” tukas Cecep.

Arrmanatha menambahkan, tantangan dari konsep Indo-Pasifik tersebut adalah dengan meyakinkan negara-negara di Samudera Hindia untuk terlibat. Jika tidak, maka dikhawatirkan tercipta power projection atau penggunaan elemen negara dalam hubungan internasional.

“Apabila itu terjadi, ambil contoh negara-negara ASEAN menutup jalur lautnya, maka kapal-kapal kargo tidak bisa lewat. Akibatnya, perekonomian negara-negara Pasifik (Korea Selatan, Jepang, dan China) terganggu karena ASEAN ini kan pertemuan antara Samudera Hindia dengan Pasifik,” tutup Tata.

(war)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini