nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dibanderol Rp2 Juta, "Ayam Kampus" di Aceh Paling Disukai Kalangan Pejabat

Khalis Surry, Jurnalis · Senin 26 Maret 2018 16:47 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 26 340 1878089 dibanderol-rp2-juta-ayam-kampus-di-aceh-paling-disukai-kalangan-pejabat-azzVONaSCJ.jpg Para mahasiswa yang ditangkap karena tersangkut kasus prostitusi online (Foto: Khalis Surry/Okezone)

BANDA ACEH - Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banda Aceh mengungkap praktik prostitusi online di wilayah kota tersebut. Dalam penangkapan itu polisi menagamankan seorang mucikari dan tujuh wanita yang rata-rata masih menyandang status mahasiswa yang diduga pekerja seks komersial (PSK).

Ketujuh mahasiswa yang diduga PSK, Ayu (28), CA (24), RM (23), DS (24), RR (21), IZ (23), dan MJ (23). Dan seorang muckari berinisial MRS (28) alias yang juga masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Aceh. Semua wanita yang diduga "ayam kampus" tersebut merupakan warga Aceh, sedangkan mucikari berasal dari Sumatera Utara.

Pada Senin (26/3/2018), mucikari yang biasa dipanggil Andre membeberkan tentang pelanggannya ke awak media. Mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye, dengan wajah yang dibalut dengan sebo warna hitam, Andre menyebutkan konsumen yang memesan "ayam kampus" miliknya selama bisnis prostitusi online itu berasal dari pelbagai kalangan, termasuk mereka yang menjadi pejabat di Aceh.

(Baca Juga: Bongkar Prostitusi Online di Aceh, Polisi Tangkap 7 Wanita Muda dan Seorang 'Papi')

"Yang order pastinya mereka orang yang banyak uang, hampir semua kalangan ada, termasuk kalangan pejabat," kata Andre, saat ditemui di sebuah ruang yang ada di Markas Polresta Banda Aceh.

Menyebutkan ada pejabat yang kerap memesan "ayam kampus" miliknya selama ini, Andre, tak membeberkan di instansi mana para pejabat itu bekerja. Para pejabat yang menyewa para wanita yang diduga PSK itu telah kenal dekat dengan dirinya, Andre membocorkan, bahwa pejabat itu berasal dari lingkungan dinas-dinas yang ada di Pemerintah Aceh.

“Untuk jabatannya di mana itu saya tidak tahu tetapi kalau kalangan pejabat ada,” ujarnya.

Para pejabat di Aceh, Andre mengungkapkan, bahwa mereka lebih dominan menyukai para "ayam kampus" yang disediakan berkulit putih dan bersih. Seingat Andre, para pejabat itu pernah memesan wanita malam padanya pada 2016 lalu. Dan untuk tarif, Andre memasang dengan angka yang bervariasi, mulai dari angka Rp1,7 juta hingga Rp2 juta atau lebih. Dengan lokasi kencan di hotel yang ada di sekitaran Banda Aceh.

“Harga sekali kencan bervariasi mulai dari (rupiah) 1,7 juta. Sementara untuk hotel itu dibayar sama pelanggan. Mereka (pejabat) memang tidak sering tetapi ada, kapan dia ada waktu senggang antara tiga atau empat kali,” jelas Andre.

Wanita yang diajak Andre untuk bergabung dalam bisnis prostitusinya itu sebagaian besar masih duduk di bangku kuliah. Bahkan, ada juga wanita yang bekerja sebagi Sales Promotion Girl (PSG). Dirinya mengenal para wanita itu di tempat hiburan yang ada di Banda Aceh. Alasan para wanita itu untuk menjadi PSK, kata Andre, untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari tak sanggup bayar kontrakan dan beberapa keluhan lainnya.

“Setelah kenelan tadi mereka (wanita yang diduga PSK) datang ke saya mengeluh tidak punya uang untuk bayar kost dan lainnya, setelah itu saya cari pelanggan untuk mereka,” cetusnya.

(Baca Juga: Ingin Hidup Mewah, Alasan Mahasiswi di Aceh Jadi PSK)

Bisnis prostitusi itu telah dijalani Andre sejak dua tahun yang lalu. Alasannya terjun dalam bisnis haram itu sama seperti para "ayam kampus" miliknya, faktor ekonomi. Dari setiap kali penyewaan "ayam kampus" miliknya, Andre mengambil haknya bervariasi, mulai dari Rp500 ribu hingga Rp1 juta.

“Saya tidak mengajak para wanita itu, bahkan sebelum kenal, mereka sudah lebih duluan terjun menjadi PSK,” sebutnya.

Sementara itu, polisi terus melakukan pengembangan terhadap kasus prostitusi online yang terjadi di tanah serambi mekkah ini. Bahkan, polisi juga akan melakukan penyelidikan atas dugaan pejabat yang menjadi konsumen seperti yang diakui Andre.

"Kita akan akan melakukan pengembangan baik itu jaringan bisnis prostitusi online dan siapa saja pengguna atau pelanggannya," kata Kanit PPA Polresta Banda Aceh, Ipda Septia Intan Puteri.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini