Image

Edy-Musa Akan Jadikan Perkampungan Syekh Silau Laut sebagai Cagar Budaya

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Kamis 05 April 2018 20:53 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 05 340 1882765 edy-musa-akan-jadikan-perkampungan-syekh-silau-laut-sebagai-cagar-budaya-lG5youwBzq.jpg Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah di perkampungan Syekh Silau Laut. Foto Okezone

MEDAN - Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara nomor urut 1, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah, menyempatkan diri singgah ke Perkampungan Syekh Silau Laut dalam kunjungnnya Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Kamis (5/4/2018).

Kunjungan tersebut juga memberi kesan tersendiri bagi warga yang hadir di sana. Begitu juga bagi Pimpinan Zuriat Tuan Syekh Silau Laut, H Ibrahim Ali (62). Dia pun kembali mengisahkan sosok sosok Ijeck dan kakeknya Al Hafidz Haji Gulrang Shah.

“Musa Rajekshah atau Ijeck ini keluarga besar Silau Laut. Dia sudah pernah ke sini beberapa kali. Waktu itu masih lajang Ijeck. Di bawa sama ayahanda Bang Haji Anif,” kata Haji Ibrahim Ali.

Haji Ibrahim Ali, melanjutkan ceritanya soal sejarah Syekh Silau Laut. Selain pernah menjadi panglima perang di Kedah (Malaysia), Tuan Syekh Abdur Rahman (Tuan Syekh Silau Laut I), seusai menimba ilmu di Mekkah, kembali ke Sumatera Utara dan mengembangkan Tareqat Syattariah di Silau Laut hingga wafat pada 2 Jumadil Awal 1360 H atau 28 Februari 1941, dalam usia 125 tahun. Kemudian, dilanjutkan oleh Tuan Syekh Silau Laut II, Tuan Syekh Muhammad Ali Silau Laut.

“Semasa Tuan Syekh Silau Laut hidup, murid beliau banyak di sini. Satu hal yang harus saya sampaikan, Kakek dari Ijeck, yang kami panggil dengan sebutan Tuan Kabul (Al Hafidz Haji Gulrang Shah), sudah sampai di sini. Sambil berdagang ke sini, beliau juga mengajar di sini. Beliau adalah tandem Tuan Syekh Silau Laut dalam belajar dan juga mengajar murid-murid Tuan Syekh Silau Laut,” kata Pak Cik dari Ustadz Abdul Somad ini.

Kakek Ijeck, memang bukan orang biasa. Beliau adalah ulama sekaligus Hafidz Alquran. Maka itu dia bergelar Al Hafidz. “Beliau (Tuan Kabul) menjadi tandem bagi murid-murid dalam berbahasa Arab dan membaca kitab-kitab yang berbahasa Arab. Maka itu, saya berani bilang keluarga ananda Ijeck, adalah keluarga besar kami, Syekh Silau Laut. Kalau orang-orang tua di Silau Laut, semua kenal dengan Tuan Kabul,” tuturnya.

Semasa hidupnya Tuan Syekh Silau Laut adalah ulama yang dihormati. Tak heran banyak yang ziarah ke makamnya. Termasuk juga Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah yang datang pada Januari 2018. “Ziarah dilakukan untuk mengambil iktibar. Zuriat Tuan Syekh Silau Laut terbuka untuk siapapun, apalagi bagian dari keluarga kami yang ke sini,” katanya.

Menyikapi soal dalam Pilgubsu 2018 saat ini, Haji Ibrahim Ali mengatakan, masyarakat Sumut, terutama umat Islam harus bijaksana dalam menentukan pilihan. “Secara formal, dalam pilkada kita tentu pakai nilai agama dan aturan negara. Keluarga kami (Zuriat Syekh Silau Laut) saya pikir, sudah ada satu kebijaksanaan sendiri. Pilihan sudah adanya itu,” katanya.

Apalagi, kata dia, kemarin sudah ada hasil Kongres Umat Islam Sumut yang menekankan penguatan peran politik umat Islam dengan memilih pemimpin berdasarkan Alquran dan Sunnah, penguatan ukhuwah, penguatan ekonomi umat dan penguatan peran perempuan Islam. “Memang harusnya begitu. Umat Islam memilih pemimpin harus sesuai Alquran dan Sunnah. Tapi kesatuan umat Islam dan umat lainnya harus kita jaga di Sumut ini. Menjaga keamanan dan ketertiban adalah kewajiban kita,” paparnya.

Lantas apa tanggapan Musa Rajekshah soal kisah dari Haji Ibrahim Ali ini? “Terus terang, saya baru tahu waktu diceritakan ketika kunjungan kami ke sana Januari 2018. Saya dan keluarga berterimakasih zuriat Tuan Syekh Silau Laut masih ingat dan menceritakan kisah ini pada kami,” kata Ijeck saat ditemui di sela kegiatannya bersama Keluarga Abiturient Mustafawiyah (KAMUS), di MMTC Medan.

Dikatakan Ijeck, semasa hidupnya Tuan Syekh Silau Laut adalah tokoh yang dihormati jamaah dan juga para bangsawan Serdang maupun Asahan memberi perlakuan khusus terhadapnya. Wujud dari perhatian para penguasa Asahan dan Serdang itu antara lain berupa pembuatan jalan menuju Kompleks Tareqat Syattariah pimpinan Syekh Silau Laut. Awalnya adalah jalan setapak yang dirintis oleh Sultan Asahan yang kemudian diperlebar dan diperkeras atas bantuan Sultan Serdang.

“Generasi muda Islam sekarang harus tahu, kisah sejarah dan perjuangan beliau dalam berdakwah sangat banyak. Syekh Silau sangat berjasa dalam menyebarkan Islam di Indonesia dan beberapa negara di Asia. Bisa dilihat, dari berbagai negara tetangga datang berziarah ke makam Syekh Silau Laut. Ulama besar asal Sumatera Utara yang mendunia,” kata Ijeck.

Di sisi lain, Perkampungan Syekh Silau Laut merupakan daerah yang dikeramatkan warga lagi bersejarah. Kata Ijeck, rumah utama Tuan Syekh Silau Laut, dibangun sudah termasuk cagar budaya karena berusia di atas 50 tahun. Termasuk juga makam Tuan Syekh Silau Laut. “Sebagai bagian keluarga besar Tuan Syekh Silau Laut, kami akan siapkan perkampungan itu sebagai kawasan cagar budaya. Karena itu kawasan bersejarah dan bisa menjadi dokumen pengingat bagi anak cucu kita di masa depan. Semoga perjuangan Tuan Syekh Silau Laut menginspirasi kita untuk menjadikan agama, masyarakat dan negara yang bermartabat,” pungkasnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini