nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

200 Karyawan Operator Transjakarta Terancam PHK Buntut Bus Terguling

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Senin 30 April 2018 02:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 04 30 338 1892683 200-karyawan-operator-transjakarta-terancam-phk-buntut-bus-terguling-trLAY8ihI8.jpg Bus Transjakarta (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sebanyak 200 orang karyawan PT Bianglala Metropolitan terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) setelah PT Transjakarta menyetop secara sepihak operasional dari 48 armada bus yang dimiliki perusahaan tersebut.

Sanksi itu diberikan PT Transjakarta lantaran salah satu armada milik PT Bianglala Metropolitan yang merupakan operator bus Transjakarta terguling di Cawang pada Senin 9 April 2018 lalu. Padahal, kontrak operasional dari PT Bianglala Metropolitan baru berakhir pada September 2018.

Direktur PT Bianglala Metropolitan Wahid Sukamto menilai, pemutusan kontrak sepihak yang dilakukan PT Transjakarta terasa janggal. Hal itu lantaran sanksi dari BUMD Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI itu biasanya hanya diberikan kepada pengemudi dan satu armada yang mengalami kecelakaan.

Sementara dari insiden tersebut, Pemprov DKI diketahui menghentikan operasional bus secara keseluruhan. Padahal, berdasarkan penyelidikan Ditlantas Polda Metro Jaya diketahui kecelakaan itu disebabkan karena adanya kelalaian pengemudi.

"Pengemudi itu pun sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Ini membuktikan bahwa persoalan bukan karena kelaikan bus," kata Kamto dari keterangan tertulis yang diterima Okezone, Minggu (29/4/2018).

 

Menurut Kamto, seharusnya tidak ada alasan bagi PT Transjakarta untuk menghentikan operasional dari 48 Bus Amari yang dimiliki PT Bianglala Metropolitan. Apalagi, status dari 48 bus itu laik operasi atau siap guna operasi (SGO) berdasarkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh PT Transjakarta.

"Maka kalau mau dievaluasi menyeluruh menurut saya tidak tepat," paparnya.

Kamto memastikan, kontrak kerjasama masih berjalan antara PT Bianglala Metropolitan sebagai salah satu operator dari PT Transjakarta masih berjakan. Ia berharap, PT Transjakarta dapat tetap mematuhi kontrak kerjasama yang tengah berjalan itu.

"Makanya saya agak bingung juga mau dibawa ke mana sebenarnya masalah ini," terangnya.

Ia melanjutkan, keputusan pemutusan kontrak sepihak PT Transjakarta telah menyebabkan 200 karyawan dari PT Bianglala Metropolitan terancam diberhentikan. "Kalau PT Transjakarta tidak mencabut keputusannya kami terpaksa memutus kontrak kerja 100 sopir, 50 mekanik dan 50 staf," tuturnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uno menyatakan kasus tergulingnya bus Transjakarta di Cawang, Jakarta Timur akibat human error yang disebabkan adanya mobil lain yang secara mendadak memotong jalur bus BMP 162 itu.

Sebab itu, Sukamto menolak tudingan bus yang dikemudikan Pramudi Sutikno maupun pihak Bianglala telah melanggar SOP dan batas kecepatan. Pasalnya, akibat tudingan itu, seluruh armada bus Amari yang dioperasikan Bianglala dikandangkan oleh PT Transjakarta.

PT Bialanglaka Metropolitan mengeluarkan fakta atau dokumen otentik yang dikeluarkan oleh PT Transjakarta dalam investigasinya. Pertama, rekaman kecepatan Bus BMP 162 sejak meninggalkan halte hingga titik kecelakaan, yaitu bus melaju dengan kecepatan maksimum 35 kilometer per jam.

Kedua, tiga hari setelah kecelakaan pada 11 April 2018, PT Transjakarta masih mengeluarkan rekomendasi bahwa 48 unit bus Amari yang dioperasikan Bianglala masih SGO atau laik jalan. Rekomendasi itu juga memuat sebanyak 27 unit lainnya tidak dapat operasi (TDO)

Ketiga, polisi sudah mengizinkan bus yang ditahan dibawa pulang ke poll tanpa adanya cacatan bahwa bus tidak laik jalan. Akibatnya, kerugian besar akan diderita Bianglala karena biaya rekondisi atau perbaikan bus milik Transjakarta yang dioperasikan Bianglala untuk Amari belum balik modal.

"Miliaran rupiah yang harus kami keluarkan, dan belum balik modal. Dan kami bisa bangkrut dengan kebijakan ini," pungkas Sukamto.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini