Dapat Tekanan Internasional, Koalisi Pimpinan Saudi Hentikan Serangan di Yaman

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 15 November 2018 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 11 15 18 1978345 dapat-tekanan-internasional-koalisi-pimpinan-saudi-hentikan-serangan-di-yaman-zGRqvsFWpJ.jpg Foto: Reuters.

ADEN – Koalisi pimpinan Arab Saudi telah menghentikan serangannya terhadap kelompok pemberontak Houthi di kota pelabuhan Hodeidah, Yaman. Penghentian serangan itu dilakukan di tengah kuatnya tekanan dari dunia internasional untuk mendorong gencatan senjata di Yaman.

Berdasarkan keterangan tiga sumber kepada Reuters, sekutu-sekutu Barat Arab Saudi, termasuk Amerika Serikat (AS) mendesak diberlakukannya gencatan senjata menjelang upaya perdamaian baru yang dipimpin PBB untuk mengakhiri konflik di Yaman yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun dan mendorong negara itu ke ambang krisis kelaparan.

BACA JUGA: Pertempuran di Hodeidah, Yaman Tewaskan Sedikitnya 149 Orang dalam 24 Jam

"Koalisi telah menginstruksikan pasukan di lapangan untuk menghentikan pertempuran di dalam Hodeidah," demikian disampaikan seorang sumber pro-koalisi yang dilansir Reuters, Kamis (15/11/2018). Sumber militer lain yang didukung oleh koalisi mengonfirmasi perintah tersebut.

Sumber ketiga dari kalangan non-militer mengatakan, keputusan itu diambil sebagai respons atas permintaan dunia internasional untuk gencatan senjata agar memastikan Houthi menghadiri pembicaraan perdamaian yang direncanakan.

Juru bicara koalisi belum memberikan komentarnya mengenai laporan Reuters.

Utusan khusus PBB, Martin Griffiths sedang berusaha menyelamatkan pembicaraan damai antara pihak-pihak yang berseteru di Yaman setelah perundingan putaran terakhir yang digelar pada September gagal karena perwakilan pihak Houthi tidak muncul.

BACA JUGA: Kunjungi Arab Saudi, Menlu Inggris Desak Perang Yaman Dihentikan

Koalisi pimpinan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab turut campur dalam perang Yaman pada 2015 untuk memulihkan pemerintahan resmi Yaman yang digulingkan oleh kelompok Houthi pada 2014.

Aliansi tersebut bergantung pada senjata dan intelijen Barat dalam konflik, dilihat sebagai perang proksi antara Riyadh dan Teheran.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini