nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ahli Geologi Peringatkan Palung Timur Pulau Siberut Berbahaya

Rus Akbar, Jurnalis · Jum'at 11 Januari 2019 14:32 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 11 340 2003101 ahli-geologi-peringatkan-palung-timur-pulau-siberut-berbahaya-GBTIHRHIRt.JPG Foto Istimewa

PADANG - Pasca-tsunami di Selat Sunda, ahli geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Barat Ade Edwar, memberikan peringatan potensi tsunami dari Palung Laut bagian timur Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, bisa menimbulkan tsunami akibat longsoran di daerah palung dengan durasi tiga menit sampai di darat.

Menurut Ade, longsor di Palung Siberut itu bisa saja terjadi seperti tsunami di Selat Sunda lokasi di depan Siberut. Di tempat itu ada palung laut panjangnya sepanjang pulau itu.

loading...

“Itu yang paling khawatir Danny Hilman (peneliti gempa), tapi teman-teman tidak ada yang respon, saya kawatir bisa seperti jadi kayak Palu dan Banten nanti,” katanya pada wartawan, Jumat (11/1/2019).

 

Mantan Kepala Pusdalops BPBD Sumbar itu menambahkan palung itu menempel ke pulau Siberut kedalamannya 1.000 meter, sedang di Pulau Sipora dan Pagai Utara dan Selatan itu ada tapi pendek-pendek dan dangkal.

“Yang paling dalam itu di pulau Siberut, panjang dan dalam dan dia langsung ke Padang jadi seputaran Siberut dan Padang akan kena tsunami lokal, yang kena itu kita saja dan Nasional tidak akan mengurus soal ini hanya kita saja,” terangnya.

Jarak palung laut pulau Siberut kedarat hanya 5 km kalau itu longsor hanya 3 menit tsunami mencapai bibir pantai itu paling lama. Itu persis kayak di Palu itu terjadi untuk pesisir Timur Mentawai Tsunami bisa terjadi 5 sampai 7 meter karena sangat dekat dengan lokasinya, meski early warning system ada disana karena dekat sekali ke sumbernya itu tidak akan terkejar memberikan informasi, info gempa dari BMKG saja 5 menit paling cepat namun kadang ada 7 menit sampai 10 menit sampai pada masyarakat.

Jadi kata Ade, selama ini jarang terjadi gempa di Palung Siberut itu mungkin 10 sampai 20 tahun gempa itu tidak terjadi, namun sekarang gempa sudah mulai terjadi itu tandanya makin aktif serta daerah tersebut seismicgap.

“Daerah itu jarang terjadi gempa bertanda itu menyimpan energi, daerah itu istilahnya kepala naga. Sekarang sudah mulai gempa-gempa mulai dari yang kecil 2 SR sampai 3 SR kemudian turun lagi, lalu gempa lagi naik lagi mencapai 4 SR lalu turun lagi kemudian gempa kecil dan naik mencapai 5 SR, terakhir gempa itu mencapai 5,7 SR lalu turun lagi kemudian nanti akan gempa skala kecil lalu bisa naik mencapai 6, prediksi parah ahli daerah itu yang terjadi 8,9 SR. Pulau Siberut itu kepala naga dan biang keroknya,” terang Ade.

 sss

Gempa yang terjadi di depan pulau Siberut itu akibat longsoran palung laut, kalau longsor skala besar itu akan terjadi gelombang besar, di Selat Sunda itu terjadi akibat longsoran bukan karena gempa, dan itu ada di Pulau siberut.

Kemudian selain Palung laut Siberut ada juga dibadan Pulau Siberut ada dua sesar sungkup, seperti tanah berlipat satu menghujam ke dalam satu lagi keatas jadi kalau terjadi bisa satu turun dan satu naik dan bisa terjadi tanah likuifaksi (tanah terbalik) itu sangat berpotensi terjadi di Siberut dan Sipora karena dasar tanah lumpur tidak ada bebatuan.

Patahan tersebut memanjang dari teluk Siberut Barat Daya (Peipei) lurus mengikuti lembah keatas sampai bagian Simalegi Siberut Barat. Kemudian dari Teluk Maileppet (Siberut Selatan) akan melintas Saliguma, lurus keatas menuju Sotboyak dan ujungnya sampai di Betaet (Siberut Barat).

“Jika terjadi gempa di laut atau didarat maka itu akan mempengaruhi kedua sesar yang ada didarat, begitu juga patahan yang ada di bagian barat karena disana ada juga lempeng (cincin api)," sambungnya.

Kata dia, untuk mengatasi supaya mengurangi korban jiwa pemerintah harus memasang alert atau alarm untuk lokal. Alarm tersebut berfungsi untuk mengukur gempa lokal. Alat itu diseting kalau 6 SR gempanya maka secara otomatis dia berbunyi tanpa tekan tombol tanpa ada pengawasnya. Yang dilakukan itu hanya merawatnya dan jangan di rusak.

“Itu peralatan teknologi yang murah tersedia sekarang, gempa yang terjadi sekarang itu yang sering-sering itu di longsoran di palung laut Siberut. Kemudian dilanjutkan sosialiasi kepada masyarakat, jadi dia seperti mata uang tidak bisa dipisahkan,” terang Ade.

Alarm itu bisa dipasang di 10 kecamatan yang ada di Mentawai terutama yang padat penduduk sebagai bunyi peringatan gempa dan tsunami. Jadi tidak lagi menunggu dari pusat soal peringatan dini terjadi tsunami. Kalau masih juga ragu pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai melakukan seminar dengan pakar atau diskusi soal gempa ini dengan pakarnya.

Kemudian mengaktifkan kembali radio yang ada di 10 kantor kecamatan tersebut, dulu BPBD dan BNPB memberikan bantuan radio tersebut, radio tersebut terbaik di dunia yang memakai itu hanya Mentawai satu-satunya di Indonesia namun kenyataanya itu tidak dijaga dengan baik.

Radio itu bisa mencapai seluruh dunia soal gempa tersebut dan dihidupkan pakai sola cell, padahal radio itu sangat gampang pemakaiannya dan itu dipakai radio perang, UN (PBB) dan PMI.

“Dulu waktu pemasangan di Siberut bupati ada tapi sekarang kondisinya sudah tidak jelas," pungkasnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini