Giyono, ayah dari Rahim mengatakan, anaknya terserang DBD beberapa pekan lalu. Saat itu suhu badannya sangat tinggi dan tubuhnya lemas.
"Untungnya kita cepat bawa ke rumah sakit. Karena kalau tidak, bisa tidak tertolong. Kita upayakan bisa sembuh. Ini belum sepenuhnya pulih, tapi ya sudah naikkan. Masih tetap kontrol. Infusnya aja belum dilepas," katanya.
Giyono mengaku telah melaporkan kasus DBD anaknya ini ke petugas kelurahan. Ia juga sudah meminta segera dilaksanakan fogging di sekitar rumah mereka.

"Tapi sampai saat ini tidak ada jawaban kapan fogging-nya dilaksanakan. Beruntung kami hari ini Perindo mau datang dan mengasapi rumah kami. Terima kasih Perindo," ucapnya.
Giyono berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Medan lebih responsif dalam mengantisipasi wabah DBD sehingga nantinya tidak kembali disalahkan warga, jika terjadi KLB.
(Baca Juga : Gelar Sarasehan, Caleg Perindo Ajak Pedagang Keliling Naik Kereta Kelinci)
"Kita heran sekali memang lihat Pemkot Medan saat ini. Lambat sekali. Nanti begitu disalahkan, enggak terima. Malah masyarakat yang disalahkan," katanya.
Sebagai catatan, pada 2018, sebanyak 1.490 orang warga terjangkit DBD. Sebanyak 13 di antaranya meninggal dunia. Medan menjadi daerah penyumbang angka kasus DBD terbesar di Sumut yang mencapai 5.713 orang dengan korban meninggal dunia mencapai 25 orang.
(Baca Juga : Temu Pedagang Keliling Solo Raya, Caleg Perindo Fokus Berikan Bantuan Hukum untuk Rakyat Kecil)
(Erha Aprili Ramadhoni)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.