nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pakar PBB Desak Indonesia Investigasi Polisi Papua yang Interogasi Tahanan Menggunakan Ular

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Jum'at 22 Februari 2019 14:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 22 18 2021477 pakar-pbb-desak-indonesia-investigasi-polisi-papua-yang-interogasi-tahanan-menggunakan-ular-yh3lve1Cmy.jpg Ilustrasi Foto/Okezone

JAKARTA – Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia atau Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR) mengecam kepolisian Indonesia yang menggunakan ular saat menginterogasi tahanan.

Dalam laman resminya, OHCHR mendesak adanya investigasi yang cepat dan tidak memihak terhadap sejumlah kasus dugaan pembunuhan, penangkapan yang melanggar hukum, dan perlakuan kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat orang asli Papua oleh polisi dan militer Indonesia di provinsi Papua dan Papua Barat

Video yang beredar memperlihatkan seorang terduga kasus pencurian sedang diinterogasi dengan menggunakan ular oleh anggota Polres Jayawijaya, Papua, pada 6 Februari 2019.

Ular hidup itu dililitkan ke leher pria terduga pencuri ponsel itu yang kemudian melahirkan protes sejumlah kalangan setelah videonya beredar luas di masyarakat.

"Kasus ini mencerminkan pola kekerasan yang meluas, dugaan penangkapan sewenang-wenang dan penahanan serta metode penyiksaan yang digunakan oleh polisi dan militer Indonesia di Papua," kata OHCHR dalam pernyataannya.

"Taktik ini sering digunakan terhadap orang asli Papua dan pembela hak asasi manusia. Insiden terbaru ini merupakan gejala dari diskriminasi dan rasisme yang mengakar kuat yang dihadapi warga asli Papua, termasuk oleh militer dan polisi Indonesia."

Foto/Ist

Perwakilan dari kepolisian Indonesia telah secara terbuka mengakui insiden tersebut, dan meminta maaf atas kejadian itu. Namun, OHCHR mengatakan bahwa penyelidikan yang cepat dan tidak memihak harus dilakukan.

"Kami mendesak Pemerintah untuk mengambil tindakan segera untuk mencegah penggunaan kekuatan yang berlebihan oleh polisi dan pejabat militer yang terlibat dalam penegakan hukum di Papua. Ini termasuk memastikan mereka, yang telah melakukan pelanggaran HAM terhadap penduduk asli Papua dimintai pertanggungjawaban, " kata mereka.

"Kami sangat prihatin dengan apa yang tampak sebagai budaya impunitas dan kurangnya investigasi terhadap dugaan pelanggaran HAM di Papua," isi pernyataan tersebut .

Insiden di mana bocah itu dianiaya terjadi di tengah operasi militer yang sedang berlangsung di Papua, yang menjadi bagian dari Indonesia pada tahun 1969 dan yang telah melihat pertumbuhan gerakan pro-kemerdekaan yang semakin vokal dalam beberapa dekade terakhir.

Ular itu sudah ada lama di kantor Polres 

Ular yang dilaporkan tidak berbisa dan jinak itu, menurut Suryadi, adalah milik salah-seorang anggota polisi di Polres Jayawijaya, Wamena.

"Kebetulan ular itu sudah lama di Polres," ungkap AKBP Suryadi Diaz, mengutip BBC News Indonesia.

Dari informasi yang diperolehnya, ular itu pernah digunakan untuk "menyadarkan" anggota masyarakat yang terjaring karena mabuk akibat menenggak minuman keras di tempat-tempat umum.

"Biasa itu, kalau malam-malam Minggu, kalau banyak orang mabuk yang tertangkap, itu dikasih tunjuk (ular) itu, mereka takut," ungkapnya.

Metode lainnya, sambungnya, adalah merendam mereka yang tertangkap dalam kondisi mabuk itu dalam bak air. "Sampai sadar (dari mabuk) dan kemudian dipulangkan," jelas Diaz.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini