Dia menambahkan, kelompok radikal ingin membentuk kepemimpinan global yang dipimpin oleh kalifah. Padahal paham tersebut tidak diterapkan di Indonesia dan jelas bertentangan dengan Pancasila.
"Ideologi bangsa Indonesia Pancasila sudah sesuai dengan masyarakat kita. Menurut saya Pancasila sudah sesuai dengan Islam, karenanya tidak diperlukan perubahan ideologi seperti yang disebarkan oleh kelompok radikal karena berpotensi menyebabkan perpecahan,” urainya.
(Baca Juga: KPU Disarankan Majukan Debat Terakhir Pilpres agar Tak Mepet Masa Tenang)
Sementara Dosen kajian Islam UIN Sunan Kalijaga M Yaser Arafat mengatakan, perlu dilakukan antisipasi agar paham radikal tidak masuk ke golongan milenial.
"Kita beri pahamaan melalui penerjemahan agama yang bisa diterima dikalangan milenial (tidak kaku), namun demikian isi terjemahan juga tidak dangkal baik delivery hingga teknologi yang digunakan,” tutur Yaser.
(Fiddy Anggriawan )