nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kementerian PPPA Sebut Kasus Penganiayaan AU Jadi Ancaman bagi Setiap Orangtua

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Kamis 11 April 2019 12:57 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 11 337 2041989 kementerian-pppa-sebut-kasus-penganiayaan-au-jadi-ancaman-bagi-setiap-orangtua-tkotqqqiiz.jpg Sekretaris KPPPA (Okezone)

JAKARTA - Kasus penganiayaan yang menimpa pelajar SMP di Pontianak berusia 14 tahun, yakni AU menjadi perhatian khusus bagi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

Sekretaris Kementerian PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan, kasus penganiayaan AU ini harus menjadi perhatian penting. Bahkan, lanjutnya, menjadi ancaman bagi setiap orangtua agar mampu mengasuk anaknya dengan baik.

 Baca juga: KPAI Cek Langsung Kondisi Audrey di Pontianak

“Jadi setiap orangtua harus mampu mengasuh anak dengan baik, dan di sini ibu Menteri sudah menyampaikan bahwa inilah yang menjadi ancaman buat seluruh orangtua dalam mengasuh anak,” ujar Pribudiarta di Gedung Kementerian PPPA, Jakarta Pusat, Kamis (11/4/2019).

Bagi Pribudiarta, setiap orangtua kini harus menyadari bahwa media sosial bisa memberikan efek beragam bagi anak-anak. Sehingga, setiap orangtua diharuskan mampu memberikan pemahaman terhadap anak yang menggunakan gadget.

 Baca juga: Justice for Audrey, Ini Fakta-Fakta Terbaru Kasus Penganiayaan Siswi SMP di Pontianak

“Bahwa di luar ini ada media sosial. Anak-anak kita ini berada di dalam situasi yang anak milenial, di mana media sosial ini mereka sangat paham. Karena itulah kemudian ancaman melalui dari media sosial bisa jadi positif, negatif. Sekaligus juga meningkatkan kemampuan orangtuanya. Dia harus mampu mengajari bagaimana menggunakan gadget dengan baik,” ungkapnya.

Selain orangtua, pihak sekolah juga diimbau mampu mencegah terjadinya kekerasan yang dilakukan siswa-siswinya. Tak hanya itu, peran masyarakat dalam membangun kelompok-kelompok perlindungan anak.

 Baca juga: Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan Audrey di Pontianak

“Ketiga anak itu kan diasuh di sekolah, maka guru juga harus memiliki kemampuan itu tadi. Bagaimana mencegah terjadinya kekerasan. Kemudian yang menjadi penting, yang terkait dengan masyarakat. Bagaimana membangun kelompok-kelompok perlindungan anak. Ini menjadi penting tingkat desa, kelurahan, kota agar masyarakat sendiri bisa mengasuh anak juga,” tutupnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini