nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menpora dan Asprinya Disebut Ikut Pemufakatan Jahat Terkait Suap Dana Hibah KONI

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Kamis 09 Mei 2019 21:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 09 337 2053724 menpora-dan-asprinya-disebut-ikut-pemufakatan-jahat-terkait-suap-dana-hibah-koni-d7rNGZQkMm.jpg Menpora Imam Nahrawi (foto: Okezone)

JAKARTA - Tim Jaksa penuntut umum (JPU) KPK meyakini Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi dan Asisten Pribadinya (Aspri) Miftahul Ulum ikut serta dalam pemufakatan jahat terkait perkara dugaan suap pemulusan dana hibah untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Sebagaimana hal tersebut saat tim Jaksa membacakan surat tuntutan untuk Sekjen KONI, Ending Fuad Hamidy dan Bendahara KONI, Johny E Awuy, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.‎

Baca Juga: Hakim ke Menpora: Saudara Sama Sekali Tak Peduli Uang Negara! 

"Adanya keterkaitan antara bukti satu dengan yang lainnya, menunjukkan adanya bukti dan fakta hukum tentang adanya keikutsertaan dari para saksi tersebut, dalam satu kejadian yang termasuk ke dalam kemufakatan jahat yang dilakukan secara diam-diam atau yang dikenal dengan istilah sukzessive mittaterscraft," kata Jaksa Ronald F Worotikan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (9/5).

Menpora Imam Nahrawi. (Foto : Arie Dwi Satrio/Okezone)	 

Awalnya, tim Jaksa membeberkan adanya pemberian uang total Rp11,5 miliar dari Ending Fuad dan Johny kepada Miftahul Ulum. Uang itu diberikan secara bertahap dalam rentang waktu Januari hingga Mei 2018.

Pada Februari 2018, Ending Fuad menyerahkan uang Rp500 juta kepada Ulum di Gedung KONI. Kemudian, pada Maret 2018, Ending atas sepengetahuan Johny menyerahkan kembali uang Rp2 miliar kepada Ulum di Gedung KONI lantai 12.

Pemberian selanjutnya pada Juni 2018, Johny menyerahkan uang Rp3 miliar kepada orang suruhan Ulum bernama Arief. Pada Mei 2018, Ending Fuad menyerahkan uang Rp3 miliar kepada Ulum di Gedung KONI Pusat.

Sebelum lebaran 2018, Ending Fuad kembali menyerahkan uang dalam bentuk mata uang asing kepada Ulum di lapangan tenis Kemenpora.

Jaksa juga mengungkapkan ada pemberian kepada Ulum Rp50 juta dari Fuad dan Johny. Pemberian terjadi ketika Ulum dan Imam berada di Jeddah, untuk memenuhi undangan Federasi Paralayang dan umrah.

Dalam persidangan Ulum dan Arief membantah telah menerima uang tersebut. Akan tetapi menurut jaksa bantahan keduanya, termasuk Imam Nahrawi, harus dikesampingkan.

"Terkait bantahan dari para saksi tersebut, kiranya menurut pendapat kami selaku penuntut umum haruslah dikesampingkan. Dengan alasan bahwa selain keterangan saksi tersebut hanya berdiri sendiri, dan juga tidak didukung oleh alat bukti sah lainnya, bantahan tersebut hanya merupakan usaha pembelaan pribadi para saksi agar tidak terjerat dalam perkara ini," jelas jaksa.

Baca Juga: PPK dan Staff Kemenpora Didakwa Terima Suap dari Sekjen KONI Sebesar Rp215 Juta 

Dalam perkara ini, Ending Fuad dituntut 4 tahun penjara dan denda Rp150 juta subsidair 3 bulan kurungan. Sedangkan Johny dituntut 2 tahun dan denda Rp100 tahun subsider 3 bulan kurungan.

Ending Fuad dan Johny disebut telah menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kemenpora Adhi Purnomo, dan staf Kemenpora Eko Triyanto.

Menurut jaksa, suap yang diberikan Fuad dan Johny kepada Mulyana berupa uang sebesar Rp 300 juta, kartu ATM berisi saldo Rp 100 juta, mobil Fortuner hitam metalik nopol B-1749-ZJB, serta satu handphone Samsung Galaxy Note 9. Sementara suap untuk Adhi dan Ekto sebesar Rp215 juta.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini