nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BJ Habibie Dalam Kenangan PM Singapura: Seorang Ilmuwan di Hati

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Kamis 12 September 2019 14:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 12 18 2103960 bj-habibie-dalam-kenangan-pm-singapura-seorang-ilmuan-di-hati-umvWdSo2CA.jpg BJ Habibie. (Foto/@Habibie Center)

SINGAPURA – Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie.

Mengutip Facebook Kedutaan Besar Singapura, Kamis (12/9/2019), Lee mengatakan bahwa Habibie memimpin Indonesia saat masa sulit selama reformasi. Itu adalah titik balik penting bagi Indonesia.

“Dia bekerja keras untuk menstabilkan negara setelah krisis keuangan Asia 1997. Dia juga mendorong otonomi daerah dan desentralisasi yang lebih besar di Indonesia, dengan tujuan untuk menyatukan dan meningkatkan kehidupan semua orang Indonesia,” kata Lee.

Habibie meninggal di usia 83 tahun yang disebut putra keduanya, Thareq Kemal karena karena faktor usia. Habibie wafat pada Rabu (11/9) di RSPAD Gatot Soebroto.

Baca juga: Wakil PM Malaysia Hadiri Pemakaman BJ Habibie di TMP Kalibata

Baca juga: BJ Habibie Wafat, Kedubes Inggris Kibarkan Bendera Setengah Tiang

Foto/Reuters

Lee mengatakan Habibie adalah seorang ilmuwan di hati. Ia melihat semangat Habibie dalam bidang teknik dan teknologi saat mengunjungi pabrik Industri Pesawat Terbang Nusatura (IPTN)—sekarang PT Dirgantara—di Bandung pada tahun 1987.

“Itu adalah fasilitas yang mengesankan, dan kebanggaan serta kegembiraan Presiden Habibie. Dia pasti senang dengan langkah signifikan yang telah dibuat Indonesia sejak saat itu dalam menumbuhkan sektor teknologinya dan ekonomi digital,” kenang Lee.

BJ Habibie, ungkap Lee juga berperan dalam mengembangkan Batam, Bintan dan Karimun sebagai zona ekonomi khusus.

Lee menceritakan bahwa Singapura bekerja sama dengan Habibie dan beberapa menteri Indonesia lainnya dalam proyek tersebut.

“Saya ingat berpartisipasi dalam upacara peletakan batu pertama Taman Industri Batam—usaha patungan sektor swasta Indonesia-Singapura—dengan dia pada tahun 1990.”

“Kami bertemu berkali-kali untuk membahas bagaimana Singapura dan Indonesia dapat bekerja sama dan saling melengkapi untuk memberikan manfaat abadi bagi masyarakat kami . Kami adalah tetangga dan teman permanen, dan masa depan kami saling terkait,” tutur Lee.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini