Adakah Dampak Kesehatan Jangka Panjang?
Dokter Agus Dwi Susanto mengatakan paparan terhadap asap kebakaran hutan dan lahan bisa menyebabkan penurunan fungsi paru. Meski sebenarnya efek tersebut bisa pulih kembali.
Ia menjelaskan, berdasarkan penelitian, sekira 65 persen warga yang terekspos asap karhutla pada 2015 ada sekira 65 persen yang mengalami gangguan obstruksi atau penyempitan saluran napas. Setelah enam bulan kemudian, ketika udara kembali bersih, pemeriksaan spirometri menunjukkan bahwa saluran pernapasan mereka kembali normal.
Namun, kata Agus, paparan terus-menerus terhadap asap bisa membuat Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) menjadi semakin buruk atau eksaserbasi. PPOK membuat penderitanya sulit bernapas karena aliran udara dari paru-paru terhalang pembengkakan dan lendir atau dahak. Gejala yang semakin parah menyebabkan kunjungan ke rumah sakit meningkat.
"Itu datanya ada ya: 1,8 hingga 3,8 kali itu ada peningkatan kunjungan ke rumah sakit karena penyakit-penyakit saluran pernapasan selain ISPA."
"Beberapa data penelitian menunjukkan setiap tahun orang yang terkena asap kebakaran hutan terus-menerus itu cenderung akan mengalami hipersensitif saluran napas ya. Nanti cenderung bisa menjadi risiko terjadinya penyempitan saluran napas," imbuhnya.
Baca juga: Batal Ceramah, UAS Keluhkan Masalah Kebakaran Hutan
Penelitian mengenai komposisi kimiawi asap kebakaran gambut di Kalimantan Tengah pada 2015 menemukan kandungan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), yang bersifat karsinogenik, atau menyebabkan kanker.
Tapi, menurut Agus, hingga kini itu belum ada laporan yang menunjukkan kejadian kanker paru yang berhubungan dengan asap kebakaran hutan. Itu karena kanker hanya muncul akibat paparan yang berkelanjutan, dan biasanya terjadi setelah seseorang terpapar selama bertahun-tahun.

"Misalnya 10 tahun. Jadi setelah 10 tahun terpapar akan terjadi perubahan sel paru normal menjadi sel paru kanker."
"Kalau asap kebakaran hutan itu episodik. Misalnya, tahun ini dari Juli sampai Oktober, habis itu berhenti ketika hujan. Berbeda dengan, contohnya, kalau orang merokok ya," ujarnya.
Baca juga: Polda Kalsel Sudah Petakan Titik Api Kebakaran Hutan
Bagaimanapun, menurut Agus, yang ditakutkan dari asap kebakaran hutan adalah risiko jangka pendeknya, bukan jangka panjangnya.
"Jangka pendeknya menyebabkan ISPA. Kemudian serangan jantung meningkat, serangan asma meningkat, kunjungan ke perawatan kesehatan meningkat. Kalau jangka panjang kan keluarnya setelah sekian tahun. Tapi kalau ini dibiarkan terus-menerus, angka kematian bisa tinggi."
Studi yang diterbitkan di jurnal Environmental Research Letters pada 2016 menaksir jumlah kematian akibat kabut asap pada 2015 sebanyak 91.600 di Indonesia, 6.500 di Malaysia, dan 2.200 di Singapura. Namun Pemerintah Indonesia menolak angka tersebut, mengatakan bahwa itu merupakan estimasi hasil studi, bukan angka temuan di lapangan.