nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Ingin Terlibat, PM Israel Sebut Pembunuhan Jenderal Iran "Aksi AS"

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 07 Januari 2020 15:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 07 18 2150205 tak-ingin-terlibat-pm-israel-sebut-pembunuhan-jenderal-iran-aksi-as-8a6eREGEAE.jpg Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu. (Foto: Reuters)

TEL AVIV - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memperingatkan kabinetnya untuk tidak terlalu terlibat dalam pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani yang dilakukan Amerika Serikat (AS). Dia tidak ingin Tel Aviv sampai terseret ke dalam konflik yang meningkat antara Washington dan Teheran.

“Pembunuhan Soleimani bukan acara Israel tetapi acara Amerika. Kita tidak terlibat dan tidak boleh terseret ke dalamnya,” kata Netanyahu kepada kabinet keamanannya dalam pertemuan pada Senin, sebagaimana dilaporkan Channel 13 Israel.

BACA JUGA: Iran Kibarkan Bendera Merah Serukan Pembalasan ke AS atas Kematian Jenderal Soleimani

Diwartakan RT, Selasa (7/1/2020), ia menasihati para menterinya untuk tidak berbicara kepada media tentang pembunuhan yang terjadi pada Kamis selain mendukung hak AS untuk membela diri, agar tidak memberi kesan bahwa Israel memiliki peran dalam serangan tersebut.

Direktur Mossad dan intelijen militer meyakinkan para menteri bahwa kemungkinan serangan pembalasan oleh Iran rendah, karena "Israel tetap berada jauh dari insiden itu". Intelijen Israel juga mengatakan bahwa Iran akan mulai merencanakan langkah pembalasan pada Selasa menyusul berakhirnya periode berkabung nasional untuk Soleimani.

Sikap diam Netanyahu menarik perhatian karena ia telah mengadvokasi konflik antara AS dan Iran hampir sepanjang karier politiknya, selama lebih dari 20 tahun. Netanyahu meyakini bahwa Iran hanya beberapa langkah lagi sebelum dapat memproduksi senjata nuklir, bahkan ketika intelijen Israel secara terbuka membantahnya.

BACA JUGA: Menlu Iran: Israel Mengharapkan Terjadinya Perang di Timur Tengah

Tahun lalu, Netanyahu mendesak AS dan sekutu Timur Tengahnya untuk berkonflik dengan Iran, didukung oleh keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 dan memberlakukan kembali sanksi yang melumpuhkan Teheran.

Namun, pembunuhan terang-terangan yang dilakukan AS terhadap salah seorang komandan militer tertinggi di Iran telah memicu pembicaraan serius tentang pembalasan, tidak hanya di Teheran, tetapi juga di antara kelompok Hizbullah, milisi Syiah Lebanon yang mengklaim memaksa pertempurannya dengan Israel pada 2006 berakhir dengan imbang.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini