nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nelayan Indonesia Sering Jadi Korban Penculikan di Perairan Sabah Malaysia, Ini Penyebabnya

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 23 Januari 2020 18:22 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 23 18 2157329 nelayan-indonesia-sering-diculik-di-perairan-sabah-malaysia-ini-penyebabnya-lmBjoPK0z9.jpg Ilustrasi. (Foto/Okezone)

JAKARTA – Wilayah perairan Sabah pekan lalu kembali menjadi saksi penculikan lima nelayan warga negara Indonesia (WNI) oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Para  nelayan WNI itu diculik pada Kamis malam, 16 Januari saat kapal mereka mencari ikan di lepas pantai Lahad Datu, sekira 10 menit dari Kepulauan Tawi-Tawi, Filipina.

Data Kementerian Luar Negeri (Kemlu), sejak 2016 telah terjadi 13 penculikan dengan 44 korban nelayan WNI di perairan tersebut.

Baca juga: Muhammad Farhan, Nelayan yang Diculik Abu Sayyaf Kini Kembali ke Keluarga

Baca juga: Disandera Abu Sayyaf, Tiga Nelayan WNI Minta Bantuan Presiden Agar Dibebaskan

Angka itu berarti terjadi rata-rata empat penculikan setiap tahunnya di Perairan Sabah, dan menimbulkan pertanyaan: mengapa insiden seperti itu terus terjadi?

Berdasarkan keterangan Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kemlu, Judha Nugraha, otoritas Malaysia sebenarnya telah menetapkan jam malam (curfew) di perairan tersebut guna mencegah terjadinya penculikan.

Namun, jam malam itu terkadang dilanggar oleh para nelayan, atau justru pemilik kapal dan pengusaha.

“Jadi Pemerintah Malaysia sudah menerapkan curfew, hanya dalam pelaksanaannya banyak yang melanggar. Banyak pemilik kapal tetap meminta [nelayan] untuk melaut di daerah sana, atau malah nahkoda kapalnya yang nekat ke sana karena banyak ikan walaupun sudah dilarang,” jelas Judha kepada media, Kamis (23/1/2020).

Pelanggaran itu, menurut Judha merupakan salah satu penyebab mengapa banyak terjadi penculikan di wilayah Perairan Sabah, selain dirasa kurang instensifnya patroli laut otoritas Malaysia di wilayah tersebut. 

“Kita juga meminta otoritas Malaysia untuk bisa mengintensifkan patroli, jadi ketika ada kapal-kapal yang memang melanggar curfew, dilakukan enforcement, penegakan hukum terhadap kapal-kapal yang melanggar curfew,” tambahnya.

Patroli itu terutama diharapkan juga diintensifkan pada malam hari, waktu di mana penculikan sering terjadi. 

Isu pelanggaran curfew ini juga diangkat oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, yang meminta para pemilik kapal untuk menaati aturan-aturan yang telah diberikan otoritas Malaysia, dan bertanggungjawab jika terjadi penculikan terhadap awak kapal mereka di jam malam yang telah ditetapkan. 

Di sisi lain, Judha juga mengakui bahwa harus ada solusi terhadap larangan melaut pada jam-jam tertentu, karena berhubungan dengan mata pencaharian para nelayan di wilayah sekitar perairan Sabah. Judha berharap akan ada alternatif di Malaysia agar para nelayan di sana mendapatkan solusi. 

“Artinya, kita paham dari sisi keamanan tidak aman bagi mereka untuk melaut karena situasinya belum terjamin, tapi di sisi lain tentunya mereka perlu juga penghidupan. Harapan kita tentu di Malaysia ada alternatif, ada solusi yang bisa disampaikan bagi mereka,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini