Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pemadam Kebakaran Asal Indonesia di AS, Kerja 18 Jam Selamatkan Nyawa

Agregasi VOA , Jurnalis-Selasa, 27 Oktober 2020 |14:29 WIB
Kisah Pemadam Kebakaran Asal Indonesia di AS, Kerja 18 Jam Selamatkan Nyawa
Pemadam kebakaran asal Indonesia di Los Angeles, Muhammad Yulfiano Gerwynaldo. (Foto: courtesy)
A
A
A

“Mau ke kanan asap, ke kiri asap. Posisi tidurannya sudah enggak terlentang, karena sudah benar-benar di tengah hutan. Jadi tidurannya sudah hampir kayak berdiri, terus berasap dan panas ya, kerasa banget. Apinya tuh sangat jauh, tapi radiasinya tetap kena,” paparnya.

Ketika Mental Diuji

Jam kerja yang panjang, kurang tidur, ditambah dengan pekerjaan yang luar biasa menguras tenaga, sempat membuat Ano putus asa dan berada di titik terberat. 

“Saya tidur di tengah hutan, 36 jam. Hari pertama saya udah langsung kayak, ‘Oh, My God,’ sudah hampir kayak, give up gitu,” ceritanya.

Namun, dengan tekad dan kegigihannya, Ano berusaha bangkit dan menggunakan energi yang tersisa untuk berjuang.

“Mau enggak mau ya, memang hari kerja, jadi harus dikerjain terus. Karena, kebanyakan kalau capek kayak gini, (lebih ke mental). Hanya di kepala,” tegasnya.

Kebersamaan menjadi nomor satu. Untuk bisa bertahan dan selamat dalam bertugas, Ano dan rekan-rekannya selalu saling menyemangati dan mendorong satu sama lain.

“Kita merisikokan hidup kita, hidup di fire land gini, dengan orang yang sama. Kita istilahnya bukan teman lagi, kita sudah kayak kakak adik,” jelasnya.

Hampir Celaka, “Mungkin Saya Enggak di Sini”

Api yang berkobar hanyalah satu diantara banyak risiko yang harus Ano hadapi. Disamping risiko kesehatan, terkadang pemadam kebakaran hutan juga ditantang keberaniannya, ketika berhadapan dengan binatang liar dan buas yang banyak berkeliaran di hutan. 

“Teman saya waktu itu lagi kerja. Tiba-tiba ada mountain lion (singa gunung.red), lagi lewat aja di depan. Kalau di terkam, ya udah,” cerita Ano.

Pernah saat tengah menjalani misi dan mendaki, Ano hampir tertimpa batu sebesar kepala, yang jatuh tepat dihadapannya.

“Kaki saya hampir kena hajar. Kalau teman saya enggak (teriak, ‘awas! Batu!), mungkin saya enggak di sini. Mungkin saya lagi di rumah sakit. Batunya sangat gede. Kalau kena kaki mungkin retak, sudah pecah,” ceritanya.

Tidak hanya itu, Ano pun dihadapi situasi yang sangat mencekam dan menyeramkan yang pernah ia alami. Saat tengah beristirahat dan tidur di atas gunung, ia terbangun dan seketika melihat api yang sudah berkobar setinggi dua lantai di depannya.

“Itu jam setengah 4 pagi mungkin ya. Tiba-tiba saya dengar suara kayak, ‘krecek-krecek’ gitu loh, kayak suara kayu. Pas bangun-bangun, (sekitar 6 meter) api lagi meledak di depan saya, pas lagi tidur. Wah, itu momen paling deket sama api yang pernah saya rasain. Itu api udah di depan muka banget,” katanya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement