Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Pemadam Kebakaran Asal Indonesia di AS, Kerja 18 Jam Selamatkan Nyawa

Agregasi VOA , Jurnalis-Selasa, 27 Oktober 2020 |14:29 WIB
Kisah Pemadam Kebakaran Asal Indonesia di AS, Kerja 18 Jam Selamatkan Nyawa
Pemadam kebakaran asal Indonesia di Los Angeles, Muhammad Yulfiano Gerwynaldo. (Foto: courtesy)
A
A
A

SEORANG pria asal Indonesia yang berjuang memberantas kebakaran di California, Amerika Serikat (AS) bersama tim pemadam kebakaran dinobatkan sebagai salah satu pahlawan kota. Muhammad Yulfiano "Ano" Gerwynaldo yang mempertaruhkan nyawanya untuk memadamkan api mengatakan bahwa dia “ingin membawa perubahan besar atau menyelamatkan jiwa.”

Kebakaran hebat telah melanda tiga negara bagian di bagian barat Amerika Serikat, yaitu California, Oregon, dan Washington. Khususnya di California, kebakaran ini merupakan yang terparah sepanjang sejarah, menurut organisasi pemerintah, California Department of Forestry and Fire Protection (CAL Fire).

“Di langit ada matahari yang gelap dan berwarna merah, dan itu mengerikan sebetulnya. Ada bau asap dan juga udaranya tidak sehat untuk napas. Jadi kami semua di sini harus di rumah saja, karena pandemi, tapi juga karena udara, karena asap,” ujar warga AS, Andrea Decker, yang berdomisili di Los Angeles, California, kepada VOA Indonesia lewat wawancara virtual Teams.

Warga Indonesia, Yafi Fairuz yang berprofesi sebagai supervisor pelatih sepak bola di Los Angeles mengatakan telah beberapa kali menunda latihan terkait dengan kebakaran besar ini.

“Udaranya enggak aman untuk dihirup. Apalagi buat orang-orang yang ingin (olah raga di luar),” kata Yafi kepada VOA Indonesia.

Kebakaran hebat yang terjadi setiap tahun di California biasanya mulai terjadi antara Mei hingga Desember. Selain faktor perubahan iklim, menurut situs California Department of Forestry and Fire Protection (CAL Fire), “musim semi dan musim panas dengan suhu yang lebih hangat, berkurangnya tumpukan salju, pencairan salju yang lebih awal di musim semi, dan musim kemarau parah,” membuat hutan lebih beresiko dilanda kebakaran. 

Dilansir dari situs Cal Fire, hingga artikel ini dirilis, kebakaran kali ini telah menghanguskan lebih dari 1,6 juta hektar lahan, merusak lebih dari 10 ribu bangunan, dan sedikitnya 30 orang meninggal akibat kebakaran ini.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement