Ambil Suara, Senat AS Tak Akan Pindahkan Kedubes AS dari Yerusalem

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 05 Februari 2021 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 05 18 2357150 ambil-suara-senat-as-tak-akan-pindahkan-kedubes-as-dari-yerusalem-LqcqCepxXK.jpg Foto: Reuters.

WASHINGTON, DC - Senat Amerika Serikat (AS) memilih, dengan perbedaan suara telak, untuk mempertahankan dan memastikan pendanaan berkelanjutan untuk operasi kedutaannya di Yerusalem. Keputusan ini menegaskan kebijakan Presiden Donald Trump yang diniilai melecehkan Palestina, dan membuat solusi dua negara semakin sulit tercapai.

Hanya tiga senator, Tom Carper (D-Delaware), Bernie Sanders (D-Vermont), dan Elizabeth Warren (D-Massachusetts), yang menentang langkah yang membuat relokasi kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem menjadi permanen. Pemungutan suara pada Kamis (4/2/2021) malam mengonfirmasi status Yerusalem sebagai "ibu kota abadi dan tak terpisahkan dari Negara Yahudi Israel," menurut Senator Bill Hagerty (R-Tennessee) yang ikut mensponsori RUU tersebut.

BACA JUGA: Senyum Dubes AS Saat Terima Foto Yerusalem Tanpa Masjid Al Aqsa Undang Kecaman

Relokasi kedutaan pada Mei 2018 adalah salah satu dari banyak langkah yang diambil oleh pemerintahan Trump dalam mendukung kebijakan Israel. Itu juga merupakan bagian dari warisan yang dijanjikan penggantinya, Presiden Joe Biden, untuk dipertahankan.

Dalam audiensi konfirmasi, Menteri Luar Negeri Antony Blinken dengan tegas menyatakan bahwa pemerintahan Biden menganggap Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan mempertahankan kedutaan di sana.

Warga Palestina melihat relokasi sebagai bukti lebih bahwa AS tidak bisa menjadi mediator dalam konflik yang berlarut-larut antara kedua belah pihak, karena itu melegitimasi pendudukan Israel dan aneksasi de facto atas Yerusalem Timur. Otoritas Palestina membayangkan bagian timur kota sebagai ibu kota negara Palestina di masa depan.

BACA JUGA: 5 Dampak Politis Rencana Pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem

Apa yang disebut 'kesepakatan abad ini' yang dipromosikan oleh Trump dan disukai oleh Israel mengusulkan beberapa lingkungan di pinggiran Yerusalem Timur untuk menjadi ibu kota Palestina. Menurut rencana, pemerintah akan memerintah negara yang secara fisik terfragmentasi menjadi beberapa daerah kantong oleh wilayah Israel. Tidak mengherankan, Otoritas Palestina menolak gagasan tersebut.

Sementara kedutaan akan tetap di sini, Presiden Biden bermaksud untuk mencabut kembali beberapa kebijakan Trump lainnya tentang Palestina. Utusannya di PBB, Richard Mills, berjanji pekan lalu untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Otoritas Palestina dan memperbarui pembayaran bantuan kemanusiaan, yang dihentikan di bawah Trump.

Hubungan diplomatik terputus oleh pihak Palestina pada 2017, setelah Trump mengumumkan rencana pemindahan kedutaan. Bantuan, yang disalurkan melalui PBB, dipotong oleh Washington tahun berikutnya.

Selama kampanye pemilihannya, Biden menyarankan agar pemerintahannya dapat membuka kembali konsulat jenderal AS di Yerusalem, yang menangani hubungan dengan Palestina sebelum digabungkan dengan kedutaan pada 2019.

Pembukaan kembali konsulat akan dilihat sebagai isyarat perdamaian oleh Otoritas Palestina. Tapi itu akan membutuhkan persetujuan Israel, yang mungkin sulit diperoleh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini