China Bantah Haruskan Diplomat AS Jalani Tes Usap Anal Covid-19

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 25 Februari 2021 17:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 25 18 2368342 china-bantah-haruskan-diplomat-as-jalani-tes-usap-anal-covid-19-qt0DhilDLo.jpeg Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian. (Foto: Kementerian Luar Negeri China)

BEIJING - Kementerian luar negeri China pada Kamis (25/2/2021) membantah pemberitaan yang menyebutkan bahwa diplomat Amerika Serikat (AS) di negara itu telah diminta untuk melakukan tes usap anal (swab anal) untuk COVID-19. Bantahan itu disampaikan menyusul laporan media bahwa beberapa diplomat mengeluhkan tentang prosedur tersebut.

Outlet media AS, Vice pada Rabu (24/2/2021) mengutip seorang pejabat Departemen Luar Negeri yang mengatakan bahwa tes itu salah dan bahwa China telah mengatakan akan menghentikan tes semacam itu pada diplomat AS.

BACA JUGA: Presiden China Umumkan Kemenangan Total dalam Upaya Pemberantasan Kemiskinan

"Sepengetahuan saya... China tidak pernah meminta staf diplomatik AS yang ditempatkan di China untuk melakukan tes swab anal," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian dalam jumpa pers harian di Beijing.

Dalam email ke Reuters, seorang perwakilan Departemen Luar Negeri mengatakan "berkomitmen untuk menjamin keselamatan dan keamanan diplomat Amerika dan keluarga mereka, sambil menjaga martabat mereka".

Beberapa kota di China menggunakan sampel yang diambil dari anus untuk mendeteksi potensi infeksi di tengah peningkatan skrining selama serentetan wabah regional menjelang liburan Tahun Baru Imlek.

BACA JUGA: Video Viral Demonstrasikan Cara China Lakukan Swab Anal Covid-19

Tes menggunakan swab anal dapat menghindari infeksi yang hilang karena jejak virus dalam sampel feses atau usap anal dapat tetap terdeteksi untuk waktu yang lebih lama daripada pada saluran pernapasan, kata Li Tongzeng, seorang dokter penyakit pernapasan di Beijing, kepada televisi pemerintah bulan lalu.

Tes feses juga mungkin lebih efektif dalam menemukan infeksi pada anak-anak dan bayi karena limbah mereka membawa viral load yang lebih tinggi daripada orang dewasa, para peneliti di Chinese University of Hong Kong mengatakan dalam sebuah makalah yang diterbitkan tahun lalu.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini