Unjuk Rasa Hari Perempuan Internasional, Polisi Bentrok dengan Ibu-ibu dan Aktivis Perempuan

Agregasi BBC Indonesia, · Rabu 10 Maret 2021 09:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 10 18 2375329 unjuk-rasa-hari-perempuan-internasional-polisi-bentrok-dengan-ibu-ibu-dan-aktivis-perempuan-kZYAvprunL.jpg Unjuk rasa Hari Perempuan Internasional (Foto: Reuters)

MEKSIKO - Pasukan polisi dan para aktivis terlibat bentrok di ibu Kota Meksiko di tengah aksi unjuk rasa memperingati Hari Perempuan Internasional pada Senin (8/3) waktu setempat.

Petugas memaksa mundur para pengunjuk rasa dengan gas air mata dan tameng di lokasi demo yang berlangsung di alun-alun utama Mexico City, The Zocalo.

Para pemrotes saat itu menyerukan kepada pemerintah untuk menindaklanjuti tingginya kasus pembunuhan atas perempuan di Meksiko, yang disebut sebagai femisida, maupun kekerasan berbasis gender.

Menurut data pemerintah, pada 2020 sedikitnya 939 perempuan menjadi korban femisida.

Ribuan ibu-ibu, beberapa dengan anak perempuan mereka, mengikuti aksi unjuk rasa itu di Mexico City pada Senin waktu setempat.

Seorang gadis tampak membawa poster bertuliskan "Mereka belum membunuh saya, tapi saya hidup dalam ketakutan."

(Baca juga: Hendak Liput Kasus Pemerkosaan, Jurnalis Muslim Dipenjara dan Disiksa)

Di lokasi lain, sejumlah pemrotes mendobrak pagar pembatas keamanan di sekitar National Plaza dengan palu dan tongkat kayu.

Pihak berwenang mendirikan blokade di sekitar lokasi unjuk rasa. Namun, blokade itu lalu dipenuhi dengan nama-nama korban femisida yang dipasang oleh kelompok-kelompok perempuan.

Polisi antihuru-hara menggunakan tameng untuk menghalangi laju para pemrotes yang ingin masuk ke lokasi National Plaza. Surat kabar lokal El Universal mengungkapkan bahwa para demonstran lalu menyalakan api atas tameng-tameng milik polisi, "namun bisa segera dipadamkan."

Polisi lalu menggunakan gas air mata dan pentungan untuk membubarkan massa demonstran.

Namun, menurut media lokal, sedikitnya 15 polisi dan empat warga luka-luka akibat bentrokan itu.

(Baca juga: Kerajaan Bisnis Misterius dan Menggurita Sokong Kudeta Militer Myanmar)

Muncul laporan bahwa polisi menahan wartawan maupun mereka yang berada di kerumunan massa pengunjuk rasa.

Bentrokan antara para aktivis hak perempuan dan polisi menjadi kian lazim di Mexico City karena, bagi para aktivis, itu adalah satu-satunya cara agar bisa mendapat perhatian dari pemerintah.

Mereka menuduh Presiden Andres Manuel Lopez Obrador mengabaikan masalah kekerasan atas perempuan. Tahun lalu, Lopez Obrador mengklaim bahwa isu femisida sudah "dimanipulasi" oleh para pengritik pemerintahannya.

November tahun lalu, muncul kemarahan di penjuru Meksiko setelah polisi di resor pantai Cancun melepaskan tembakan dalam aksi protes yang menentang pembunuhan atas perempuan.

Saat itu, dua orang saat luka-luka kena tembakan dan dua lainnya cedera.

(sst)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini