Kisah Kerajaan Kuno Orang-Orang Keturunan Afrika yang 'Tersembunyi' di Bolivia

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 21 Maret 2021 10:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 21 18 2381391 kisah-kerajaan-kuno-orang-orang-keturunan-afrika-yang-tersembunyi-di-bolivia-9m2YqboWkE.jpg Kerajaan Afro-Bolivia yang didirikan bekas budak di pedesaan di tengah pegunungan Bolivia. (Foto: Jordi Busque)

KOTA La Paz di Bolivia adalah ibu kota tertinggi di dunia. Berada di ketinggian 3.690 meter, udara kota ini dingin dan tipis, membuat banyak pengunjung terengah-engah dan mengalami penyakit ketinggian, yang oleh masyarakat lokal dikenal sebagai 'soroche'.

Namun jika Anda melewati lalu lintas yang kacau dan berkendara sejauh 100 kilometer ke timur laut La Paz, menuruni lembah sub-tropis Yungas, Anda akan menemukan beberapa desa tenang yang tersembunyi di hutan.

Pedesaan ini terhubung oleh labirin berupa jalanan tanah.

BACA JUGA: 7 Mahasiswa Tewas Terjatuh Setelah Pagar Balkon Universitas Patah

Di sana, tersembunyi di antara tapir, jaguar, dan beruang yang menanggap Yungas sebagai rumah, terdapat komunitas yang tidak dikenali warga dunia selama hampir 200 tahun.

Mereka adalah orang-orang dari Kerajaan Afro-Bolivia. Ini merupakan ibu kota spiritual ribuan orang Bolivia keturunan Afrika dan salah satu kerajaan terakhir yang masih berdiri di Benua Amerika.

Sebagian besar dari sekira 2.000 penduduk kerajaan yang tersembunyi dan sederhana ini berprofesi sebagai petani. Mereka tinggal di dekat sepetak ladang kecil mereka. Di sana mereka menanam koka, jeruk, dan kopi.

Di Mururata, sebuah desa berpenduduk sekitar 350 jiwa, sekelompok ayam yang diternakkan secara bebas bersuara keras di jalanan tanah.

BACA JUGA: Setiap Anak Perempuan Lahir, Penduduk Desa Ini Menanam 111 Pohon

Anak-anak bermain bersama di jalanan, sementara laki-laki dan perempuan dewasa mengolah tanah menggunakan cangkul. Ada yang terlihat keluar dari hutan membawa kayu bakar yang baru dipotong.

Warga desa lainnya duduk di depan rumah beratap seng mereka, menyapa orang yang lewat dan menunggu bintang pertama yang muncul di langit saat matahari menyingsing.

Kelompok Afro-Bolivia adalah keturunan budak-budak asal Afrika Barat yang dibawa Spanyol antara abad ke-16 dan ke-19 untuk bekerja di tambang Potosi, sebuah kota di barat daya Bolivia.

Pada awal abad ke-17, jumlah penduduk Potosi lebih banyak daripada London.

Menurut jurnalis Uruguay, Eduardo Galeano, pertambangan di Potosi terkenal karena merenggut nyawa sekitar 8 juta orang Amerika Selatan dan Afrika.

Mereka adalah orang yang diperbudak selama 300 tahun. Banyak di antara mereka meninggal akibat terlalu sering bekerja, kekurangan makan dan suhu dingin ekstrem.

Dalam bukunya yang berjudul Los Afroandinos de los Siglos XVI al XX, mantan anggota parlemen Bolivia, Jorge Medina, seorang keturunan Afro-Bolivia, menyebut nenek moyangnya tidak dapat beradaptasi dengan cuaca dingin Potosi di dataran tinggi selatan Bolivia.

Pada awal abad ke-19, mereka dipindahkan ke Yungas yang miliki cuaca hangat. Tapi mereka tetap bekerja di perkebunan besar milik Kerajaan Spanyol.

BACA JUGA: Kereta dengan 64 Penumpang Jalan Mundur, Pihak Berwenang Lakukan Penyelidikan

Di Yungas inilah "kerajaan" tidak resmi ini terbentuk pada tahun 1820, di antara sekelompok budak Afro-Bolivia.

Meski lebih seperti sebuah suku, setelah 187 tahun keberadaan kerajaan itu akhirnya diakui pemerintah Bolivia pada 2007.

Mururata adalah pusat kerajaan ini dan di mana raja Afro-Bolivia, Julio Bonifaz Pinedo tinggal dan memerintah atas 2.000 penduduk.

Namun sulit untuk mengenalinya karena raja ini berbaur dengan penduduk desa lainnya. Bahkan, siapapun dapat membeli seikat pisang dari Raja Pinedo tanpa menyadari gelarnya. Dia mengelola toko kelontong kecil di rumahnya yang terbuat dari batu bata dan semen.

Salah satu penjaga toko adalah istrinya, Ratu Angelica Larrea. Mereka juga menjual jeruk mandarin hasil kebun mereka, makanan kaleng, minuman ringan, dan sejumlah kue serta kebutuhan pokok lainnya.

Di usianya yang sudah 78 tahun, Pinedo masih menyibukkan diri. Ketika saya bertemu dengannya, Pinedo sedang berada di depan tokonya, menyebarkan daun koka di atas terpal besar berwarna biru.

"Ini adalah daun yang saya panen dari sebidang kecil tanah saya. Dengan meletakkannya di bawah terik matahari siang, proses ini hanya memakan waktu sekitar tiga jam," kata Pinedo.

"Lalu saya akan memasukkannya ke dalam karung untuk kemudian dibawa truk ke pasar La Paz," ujarnya.

Selama berabad-abad, penduduk asli Pegunungan Andes sudah mengunyah daun koka. Mereka memasukkannya ke dalam teh untuk menekan rasa lapar, kelelahan, dan membantu mengatasi penyakit akibat berada di ketinggian.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Pinedo duduk di kursi kayu di pintu masuk tokonya. Saat itu, tetangganya dengan santai menyapa "Don Julio".

Raja Kerajaan Afro-Bolivia Julio Pinedo mengeringkan daun koka di halaman rumahnya. (Foto: Jordi Busque)

Ratu kerajaan ini, Angelica, duduk di belakang Pinedo, di tangga menuju ke rumah mereka. Di situ Angelica biasa menonton opera sabun di televisi kecil yang bertengger di atas lemari pajangan.

Keluarga kerajaan ini tidak mementingkan diri sendiri. Kerendahan hati membuat mereka sangat dihormati masyarakat.

Menurut sensus Bolivia pada 2012, lebih dari 23.000 warga negara itu diidentifikasi sebagai orang Afro-Bolivia. Tapi jika mempertimbangkan orang-orang dengan latar belakang campuran, jumlah kelompok Afro-Afrika mungkin lebih dari 40.000 orang, tulis Jorge Medina dalam bukunya.

Di saat orang-orang Afro-Bolivia menyebar ke seluruh negeri dan berbagai negara dalam beberapa ratus tahun terakhir, akar dan raja mereka ada di Yungas.

Pinedo adalah raja kerajaan pertama yang secara resmi diakui oleh pemerintah Bolivia. Ini terjadi lewat kebijakan mengakui eksistensi kelompok etnis minoritas Bolivia oleh Evo Morales, presiden pribumi pertama Bolivia 2006.

Pada 2009, Bolivia secara resmi mengubah nama mereka menjadi The Plurinational State of Bolivia. Sebuah konstitusi baru juga disetujui, untuk mengakui 36 kelompok bangsa Bolivia, termasuk Afro-Bolivia.

Langkah baru itu diambil setelah referendum bersejarah yang memberi lebih banyak kekuatan kepada kelompok pribumi, yang sejak lama terpinggirkan.

Kekuasaan raja Afro-Bolivia serupa dengan kekuasaan seorang kepala suku tradisional. Pinedo tidak memungut pajak atau memiliki kepolisian.

"Gelar saya sebagai raja sebagian besar bersifat simbolis," kata Pinedo.

"Saya tidak menyukai raja-raja kaya di Eropa, tapi saya mewakili komunitas Afro-Bolivia dan ini adalah tanggung jawab besar bagi saya."

Istri Pinedo, Angelica, menambahkan, "Jika ada konflik antara dua orang Afro-Bolivia, mereka bisa datang dan meminta nasehat dari raja."

Angelica kemudian memaparkan silsilah legendaris Pinedo. "Nenek moyangnya adalah raja di Afrika. Dari situlah semuanya dimulai," ucapnya.

Menurut Pinedo, ketika leluhurnya tiba di Yungas pada tahun 1820, salah satu kerabatnya, bernama Uchicho, sedang mandi di sungai.

Teman-teman Uchicho asal Afrika-melihat bahwa tubuhnya memiliki bekas luka yang mengingatkan pada anggota keluarga kerajaan.

Uchicho ternyata adalah seorang pangeran dari Kerajaan Kongo kuno. Dia mendapat pengakuan itu dari orang-orang yang diperbudak Spanyol.

Pinedo mengambil dokumen lama dari lemarinya. "Ini adalah kakek saya, Bonifacio, yang menjadi raja pada tahun 1932," ujarnya.

Dokumen itu menunjukkan foto seorang pria yang mengenakan rompi dan sapu tangan yang diikatkan di leher.

Bonifacio disebut lahir pada 1880 di Hacienda de Mururata. Pada kolom pekerjaannya tertulis pekerja pertanian.

Raja Bonifacio hanya memiliki anak perempuan. Oleh karenanya, satu generasi dilewati, meninggalkan kerajaan tanpa raja selama 38 tahun sampai Pinedo dimahkotai pada tahun 1992 oleh masyarakat.

Pada 2007, ketika pemerintah Morales memperluas pengakuan etnis minoritas Bolivia, Medina berhasil melobi untuk mengadakan upacara penobatan resmi untuk Pinedo di La Paz. Ketika berita tentang pengakuan resmi Pinedo oleh negara Bolivia menyebar, pengakuan terhadap komunitas Afro-Bolivia di negara itu pun meluas.

"Perusahaan Bolivia membuat film dokumenter tentang kami dan mengundang keluarga kami untuk melakukan perjalanan ke Uganda untuk melihat yang kemungkinan merupakan tanah kelahiran nenek moyang kami," kata Pinedo.

Dia berkata, dalam beberapa kesempatan meninggalkan Mururata, dia sadar bahwa dia adalah minoritas di negaranya sendiri.

Namun dengan melihat begitu banyak orang kulit hitam yang tampak seperti anggota keluarganya sendiri di Uganda, dia menjadi lebih sadar akan akarnya.

Lihatlah ke berbagai penjuru dari Mururata, Anda akan melihat hijaunya pohon salam, pakis arboreal, dan pohon tropis lainnya menutupi perbukitan.

Di atas salah satu bukit itu terhampar pemakaman kerajaan, yang sayangnya dalam keadaan tidak terawat.

Demikian pula, perkebunan lama milik kerajaan Spanyol, yang hanya beberapa menit berjalan kaki dari alun-alun utama desa yang baru diperbaiki. Perkebunan itu ditinggalkan.

Walau beberapa peninggalan masa lalu perlahan-lahan hancur, masa depan kerajaan Afro-Afrika ini mulai terbentuk.

Pinedo dan Larrea memiliki seorang putra, namanya Pangeran Rolando. Pada usia 26 tahun, Rolando tengah belajar hukum di Universidad de Los Andes di La Paz.

Posisinya sebagai calon penerus raja menjadi pendorong ambisi masa depannya.

"Saya ingin terus mendorong komunitas Afro-Bolivia lebih dikenal dan terlihat, seperti yang dilakukan ayah saya sampai sekarang," kata Rolando.

Dinding di sebelah tempat duduk Pinedo di rumahnya dihiasi dengan dokumen resmi berbingkai, foto keluarga, dan kalender yang mengabadikan upacara penobatannya.

"Di mana mahkota Anda sekarang? Dapatkah aku melihatnya?" Saya bertanya kepada Pinedo.

Sesuai dengan kerendahan hatinya, Pinedo naik ke atas dan kembali dengan mahkotanya terselip di dalam kotak kue kardus.

1
7

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini