Can Nun: Umbu Adalah yang Mencambuki "Punggung" Kehidupan Saya

Angkasa Yudhistira, Okezone · Selasa 06 April 2021 16:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 244 2390307 can-nun-umbu-adalah-mencambuki-punggung-kehidupan-saya-bB7ZU6z3ts.jpg Emha Ainun Nadjib (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun menceritakan bahwa Umbu Landu Paranggi adalah satu-satunya orang yang di muka bumi yang diakuinya sebagai gurunya. Umbu adalah guru tadabburnya, yang mencambuki "punggung" kehidupan Cak Nun.

Diketahui, Umbu yang dijuliki Presiden Malioboro meninggal dunia dalam usia 77 tahun di Bali, Selasa (6/4/2021), dini hari.⁣ ⁣Umbu lahir di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 10 Agustus 1943.

"Umbu adalah Guru Tadabbur saya. Umbu adalah pemegang cambuk yang mencambuki punggung kehidupan saya sampai saya menemukan puisi sebagai ujung dari tadabbur kehidupan, sehingga narasi utamanya adalah kehidupan puisi," tulis Emha dalam situs caknun.com.

Bagi Cak Nun, Umbu adalah manusia hati, bukan manusia akal pikiran yang rewel dan ruwet atau bahkan meruwet-ruwetkan diri sebagaimana orang-orang sekolahan di abad ini.

"Sampai usia hampir 68 tahun sekarang ini, belum pernah saya menjumpai manusia yang sangat menikmati setiap kata dan segala narasi saya tentang Islam, iman, taqwa, tawakkal, sabar dan shalat, melebihi Umbu menikmatinya dengan sumringah pancaran cahaya wajahnya," tulis Cak Nun.

Umbu Landu Paranggi dikenal sebagai guru bagi para penyair dan sejumlah sastrawan besar Indonesia. Alumnus jurusan Sosiatri, Fisipol UGM ini dikenal sebagai Presiden Malioboro.

Umbu Landu Paranggi dan Cak Nun (Foto : caknun.com)

Baca Juga : 5 Puisi Karya Umbu Landu Paranggi, Salah Satunya 'Apa Ada Angin di Jakarta'

Dia kemudian pulang ke Sumba pada tahun 1975. Tiga tahun kemudian, dia menetap di Bali hingga meninggal. Semasa hidupnya, Umbu meraih banyak pencapaian dan pengakuan atas sepak terjangnya sebagai penyair.

Salah satunya Penghargaan Seni pada tahun 2019 dari Akademi Jakarta. Puisi-puisi karya Umbu banyak berbicara tentang spiritualitas. Puisi-pusinya juga mengungkapkan tentang kampung halamannya Sumba, Yogyakarta, dan Bali.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini