Kritik Keras China, Hong Kong Hukum Taipan Media Jimmy Lai 12 Bulan Penjara

Agregasi BBC Indonesia, · Sabtu 17 April 2021 08:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 17 18 2396161 kritik-keras-china-hong-kong-hukum-taipan-media-jimmy-lai-12-bulan-penjara-ONxvBrQX5u.jpg Taipan media di Hong Kong di penjara karena berdemo menentang China.(Foto:BBC)

HONG KONG - Taipan bisnis Hong Kong yang juga aktivis pro-demokrasi, Jimmy Lai, dihukum 12 bulan penjara setelah dinyatakan bersalah berkumpul secara tak sah.

Lai satu dari sejumlah aktivis yang dinyatakan bersalah di sidang pengadilan, Jumat (16/4/2021). Dia didakwa terkait protes pro-demokrasi pada 2019.

Taipan berusia 73 tahun ini, pendiri Apple Daily dan pengkritik keras Beijing. Vonis ini ditetapkan di tengah langkah China daratan menekan kebebasan warga di Hong Kong.

Baca Juga: Lebih dari 50 Aktivis Pro Demokrasi Hong Kong Ditangkap

Sembilan aktivis dihukum Jumat (16/4/2021), karena ikut serta dalam unjuk rasa pada 18 Agustus 2019. Tiga lainnya dihukum terkait protes terpisah pada 31 Agustus.

Lai menjadi sosok paling terkenal yang ditangkap berdasarkan undang-undang keamanan nasional yang diberlakukan oleh China pada Juni 2020. Lai adalah suara pro-demokrasi terkemuka dan pendukung protes yang meletus tahun lalu.

Baca Juga: Suasana Masih Tegang, Hong Kong Tetap Gelar Pemilu Lokal

Pada bulan Februari, pria yang juga memegang kewarganegaraan Inggris, didakwa dengan perkumpulan ilegal dan intimidasi. Ia kemudian dilepaskan oleh polisi.

Media pemerintah China, Global Times, pada Senin (12/4/2021) menyebut Lai sebagai "pendukung kerusuhan" dan menuding surat kabarnya telah "memicu kebencian, menyebarkan desas-desus, dan mencoreng otoritas Hong Kong dan China daratan selama bertahun-tahun".

Global Times juga melaporkan bahwa dua putra Lai serta dua eksekutif senior Next Digital juga telah ditangkap. Lai sempat dibawa melewati kantor-kantor dalam keadaan diborgol.

Polisi mengkonfirmasi di Facebook bahwa tujuh laki-laki berusia 39-72 telah ditangkap, karena "dicurigai berkolusi dengan kekuataan asing" dan pelanggaran lainnya, tetapi tidak menyebut nama Lai.

Pemandangan hampir 200 petugas polisi menyerbu ruang redaksi Apple Daily, surat kabar pro-demokrasi terbesar di Hong Kong, mengejutkan banyak orang di sini dan pertanda bahwa segala sesuatunya berubah dengan cepat.

Seorang karyawan Apple Daily memberi tahu saya bahwa rekan-rekannya tetap tenang, dan telah memperkirakan ini akan terjadi ketika Undang-Undang Keamanan Nasional disahkan.

Lai adalah pengkritik yang sangat vokal, baik pada pemerintah Hong Kong maupun kehadiran Beijing yang semakin tegas di wilayah tersebut.

Karena kritiknya itu, media berita resmi China kerap mencapnya sebagai pemimpin "Geng Empat" yang menyulut kerusuhan di kota. Beijing juga marah ketika ia bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo tahun lalu.

Akan tetapi meskipun Next Media sering dikritik karena sensasionalismenya, ia tetap menjadi salah satu dari sedikit outlet media dengan pemilik yang tidak punya kepentingan bisnis di China daratan.

Surat kabar yang sebentar lagi akan merayakan hari jadinya yang ke-25 ini sudah berada di bawah tekanan keuangan. Mereka mengatakan akan menerbitkan edisi hari ini tepat waktu, tapi jika pemiliknya yang flamboyan itu dibungkam, tidak jelas apakah mereka akan bertahan.

Siapa Jimmy Lai?

Sang pengusaha itu diperkirakan memiliki kekayaan lebih dari US$1 miliar. Berawal dari kesuksesan di industri pakaian, ia mencoba peruntungan di media dan mendirikan surat kabar Apple Daily, yang kerap mengkritik kepemimpinan Hong Kong dan China daratan.

Pada 2019, harian itu menjadi surat kabar berbayar paling banyak dibaca di Hong Kong, baik versi cetak maupun online, menurut Chinese University of Hong Kong.

Hong Kong 'berusaha tangkap' aktivis prodemokrasi yang melarikan diri ke luar negeri. Empat anak muda Hong Kong ditahan atas tuduhan 'menghasut pemisahan diri'. China mematikan gim ponsel yang berisi sandi rahasia pro-demokrasi Hong Kong

Lai juga merupakan seorang aktivis yang menentang cengkeraman Beijing yang semakin ketat di Hong Kong. Pada 2019, ia mendukung dan mengikuti unjuk rasa yang menuntut reformasi. Pada 30 Juni, ketika undang-undang keamanan disahkan, Lai berkata kepada BBC bahwa ini "lonceng kematian untuk Hong Kong".

Ia memperingatkan bahwa Hong Kong akan menjadi korup seperti China daratan karena "tanpa aturan hukum, orang yang berbisnis di sini tidak akan mendapat perlindungan".

Dalam wawancara terpisah dengan kantor berita AFP, Lai berkata: "Saya siap dipenjara. Jika itu terjadi, saya akan dapat kesempatan untuk membaca buku-buku yang belum saya baca. Satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah bersikap positif. "

Seperti apa reaksi terhadap penangkapan Lai?

Sumber di Apple Daily yang tidak disebutkan namanya dikutip mengatakan perusahaan itu telah "menghubungi pengacara", menganggap situasi ini sebagai "pelecehan langsung".

Steven Butler, koordinator program Asia dari Komite Perlindungan Jurnalis, mengatakan penangkapan Lai "membenarkan ketakutan terburuk bahwa undang-undang keamanan nasional Hong Kong akan digunakan untuk menekan opini pro-demokrasi yang kritis dan membatasi kebebasan pers".

"Jimmy Lai harus segera dibebaskan dan semua tuduhan terhadapnya dibatalkan," katanya.

Aktivis pro-demokrasi terkemuka Nathan Law menulis di Twitter bahwa "ketakutan terbesar" sedang terwujud.

"Penangkapan gila-gilaan," katanya. "Akhir dari kebebasan pers di Hong Kong. Undang-undang keamanan nasional menginjak-injak kebebasan masyarakat kita, menyebarkan politik ketakutan."

Wang Dan, disiden dan pemimpin mahasiswa yang diasingkan dari protes Lapangan Tiananmen 1989, berkata di media sosial bahwa penangkapan Lai "sudah diperkirakan", namun "sangat berlebihan karena kedua putranya juga ditangkap, yang jelas merupakan upaya pihak berwenang untuk menghancurkan tekad Lai melalui keluarganya".

"Saya meminta komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan."

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini