Tak Ada Lebaran di Gaza Akibat Serangan Israel, Anak-Anak Ketakutan Tanpa Tempat Perlindungan

Agregasi BBC Indonesia, · Kamis 13 Mei 2021 05:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 13 18 2409719 tak-ada-lebaran-di-gaza-akibat-serangan-israel-anak-anak-ketakutan-tanpa-tempat-perlindungan-MQSHIxUzeh.jpeg Pemakaman warga Palestina yang meninggal akibat serangan Israel. (Foto: Getty Images via BBC News Indonesia)

WARGA di Yerusalem dan Gaza mengatakan mereka bersiap-siap atas memburuknya kondisi di tengah terus berlanjutnya saling serang antara kelompok Palestina dan tentara Israel.

Kelompok Palestina meluncurkan ratusan roket ke arah Israel sejak Senin malam (10/05) sementara Israel melakukan gempuran udara di Gaza. 

Kekerasan ini - terburuk sejak 2018 - menyebabkan paling tidak 65 orang Palestina meninggal akibat serangan udara Israel sementara tiga orang tewas di wilayah Israel.

Kelompok Palestina, Hamas mengatakan mereka telah meluncurkan ratusan roket ke arah Yerusalem dan area lain.

Hamas - yang menguasai Gaza - mengatakan mereka melakukan serangan untuk mempertahankan masjid al-Aqsa dari "agresi dan terorisme Israel" setelah terjadi bentrokan antara polisi Israel dan warga Palestina Senin lalu yang menyebabkan ratusan orang terluka.

PBB memperingatkan potensinya terjadi "perang dalam skala penuh" karena meningkatkan kekerasan ini.

Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Gaza, Husen, mengatakan "tak ada Lebaran bagi kami" tahun ini di tengah dentuman bom. 

"Yang pasti tampaknya tahun ini tak ada Lebaran di Gaza. Warga Palestina terpaksa menerima kondisi ini." kata Husen, aktivis kemanusiaan dan wartawan yang pernah merasakan tiga kali agresi militer Israel.

Namun ia mengatakan dengan eskalasi ini dunia mulai membuka matanya terhadap warga Palestina. 

Baca juga: Korban Tewas di Gaza Bertambah Jadi 48, Israel Akan Terus Lanjutkan Serangan

"Ini sangat menyedihkan, warga Gaza harus berdarah dulu, harus agresi dulu, baru dunia mau melihat warga Palestina," kata Husen yang memperkirakan agresi akan berlanjut setelah menteri pertahanan Israel mengatakan akan mengerahkan 5.000 tentara cadangan.

Ia juga mengatakan warga bisa meninggal di mana saja karena "Gaza tak punya bungker, sementara di Israel sana ada tempat perlindungan, jadi warga di sini bisa "meninggal di rumah atau di mana mereka berada" karena hantaman rudal.

Fady Hanona, seorang wartawan di Kota Gaza, dalam cuitan videonya menunjukkan ledakan demi ledakan di Gaza pada Rabu (12/05) pagi waktu setempat.

"Apa yang terjadi tak bisa dipercaya," katanya. "Apa yang kami alami pagi ini lebih seperti perang dibandingkan dari tiga perang yang pernah kami alami sebelumnya."

BBC juga berbicara dengan sejumlah warga di dua tempat tersebut sehubungan dengan apa yang mereka rasakan. 

"Eskalasi akan berlanjut tampaknya"

Rushdi Abu Alouf, BBC News, Kota Gaza

Gaza tak pernah mengalami kondisi seperti ini dalam beberapa tahun terakhir. Tapi kota yang padat penduduk ini, tahu persis bagaimana rasanya hidup dalam kondisi perang.

Jalan utama yang merupakan pusat perbelanjaan terlihat kosong, hanya beberapa orang yang belanja. Sebagian besar toko tutup menjelang Idul Fitri.

Pengeboman tak mereda dan suara roket Palestina dan serangan udara Israel bergaaung di seluruh wilayah pada Selasa (11/05) pagi. 

Beberapa meter dari kantor kami di Gaza, ledakan besar berdentum dan kepulan asap terlihat setelah serangan udara Israel menghantam gedung apartemen yang ditempati ratusan orang. Serangan itu menyebabkan tewasnya dua pemimpin jihad militer kelompok Islamis yang bersembunyi di gedung itu. 

"Ini terorisme Israel, kami warga sipil tak bersalah. Anak-anak saya ketakutan, mereka tak mau pulang lagi karena takut terkena serangan udara," teriak seorang perempuan, yang menggendong anaknya saat menyelamatkan diri dari gedung.

Sejak saling serang terjadi, warga banyak yang bersembunyi di rumah-rumah mereka agar terhindar dari pengeboman. Namun di Gaza tak ada tempat untuk berlindung atau sirene sebagai petanda serangan udara. Jadi penduduk tak punya pilihan lain kecuali bersembunyi di dalam rumah.

"Kami tak tahu berapa lama konflik ini akan berlangsung. Tampaknya eskalasi akan berlanjut," kata seorang warga, Sherin Emadadein.

"Saya ibu empat anak, kami tinggal di apartemen tujuh tingkat. Tak ada gedung bawah tanah, saya tidak tahu kemana melarikan diri bila gedung kami dibom."

Sherin berbicara dengan saya melalui telepon saat ia membeli makanan dari satu-satunya toko yang buka di daerah Gaza barat.

"Saya harusnya membeli cokelat dan makanan lain untuk merayakan Idul Fitri, namun kini kami tak tahu berapa lama konflik berlangsung dan saya hanya bisa membeli keperluan pokok," katanya. 

Bersembunyi di lemari'

Yolande Knell, koresponden Timur Tengah, Yerusalem

Kota Ashkelon di Israel selatan adalah wilayah yang menjadi sasaran terberat serangan roket dari Gaza. 

Kelompok sayap Hamas memperingatkan mereka akan membuat kehidupan di sana laksana "neraka" bagi penduduk setempat. 

Suara derung sirene secara konstan membuat warga berlarian untuk berlindung.

Di udara, terdengar dentuman keras dan kepulan asap putih di langit biru. Sistem pertahanan Israel, Iron Dome menangkal sebagian besar roket yang diluncurkan dari Gaza, tak jauh dari kota itu.

Namun, sejumlah gedung terhantam. Dua perempuan meninggal, puluhan dilarikan ke rumah sakit untuk dirawat.

Salah seorang perempuan bercerita momen menakutkan saat salah satu roket menghantam rumahnya dan ia bersembunyi di lemari.

Banyak yang bersiap akan terjadi saling serang lebih lanjut dalam beberapa hari ke depan.

"Ini akan terjadi terus, kekerasan seperti ini," kata salah seorang warga di kota itu, Yossi Asulin. 

"Ada yang terbunuh. Orang di sini ingin masalah (dengan Hamas) segera diselesaikan," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini